Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan permintaan tegas kepada Presiden China Xi Jinping agar memperbaiki hubungan Beijing dengan Tokyo. Permintaan itu muncul dalam pertemuan keduanya di Washington pada September, sebagaimana diberitakan media South China Morning Post Hong Kong, Kamis.
Dalam pembicaraan tersebut, Trump menilai pembatasan ekspor yang diberlakukan China terhadap Jepang, terutama logam tanah jarang, sebagai ancaman serius bagi industri Amerika Serikat. Menurutnya, sektor manufaktur AS sangat bergantung pada pemasok dari Jepang sehingga kebijakan Beijing itu turut berdampak pada kepentingan ekonomi Washington.
Trump bahkan menyebut langkah pembatasan ekspor China itu sebagai bentuk pelanggaran tidak langsung terhadap kesepakatan gencatan perdagangan antara AS dan China yang dicapai pada Oktober 2025 di Korea Selatan. Ia pun meminta Xi untuk bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Permintaan itu disampaikan berdasarkan keterangan sumber yang memahami jalannya diskusi antara kedua pemimpin tersebut.
Namun, Xi menolak menyamakan kedua persoalan itu. Ia menegaskan bahwa perselisihan antara China dan Jepang merupakan perkara tersendiri yang harus dipisahkan dan tidak boleh memengaruhi hubungan China dengan Amerika Serikat.
“Perselisihan antara China dan Jepang harus dipisahkan dan tidak boleh berpengaruh terhadap hubungan antara China dengan AS,” kata Xi, sembari memperingatkan tentang risiko meningkatnya militerisme Jepang.
Ketegangan antara China dan Jepang sendiri telah memburuk tajam sejak November 2025. Saat itu, PM Takaichi menyatakan di depan Parlemen Jepang bahwa serangan terhadap Taiwan, yang diklaim Beijing, dapat memicu respons dari pasukan pertahanan Jepang sebagai bentuk dukungan terhadap AS.
Pernyataan itu memancing kemarahan Beijing. Sejak saat itu, China meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap Jepang, salah satunya dengan membatasi perdagangan logam tanah jarang yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai produk teknologi tinggi.
Beijing juga mengkritik kebijakan penguatan pertahanan pemerintahan Takaichi. China mengeklaim bahwa “neo-militerisme” tengah meningkat di Jepang.
Di sisi lain, Jepang disebut telah mendorong agar pembicaraan antara Takaichi dan Xi dapat terlaksana di sela-sela KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik yang akan digelar di Shenzhen, China, pada November mendatang. Namun, Beijing menolak permintaan tersebut.



