Rasa tertekan akibat pekerjaan ternyata bukan perkara sepele. Survei Pew Research Center mencatat 29 persen warga Amerika Serikat mengaku stres karena pekerjaannya, sementara 19 persen lain bahkan sudah merasakan tekanan psikologis akibat kondisi tersebut. Temuan itu memperlihatkan bahwa beban kerja bukan sekadar keluhan sesaat, melainkan persoalan yang perlu ditangani serius agar tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih berat.
Pemicu tekanan di kantor sering kali datang dari hal kecil yang luput diperhatikan. Ruang kerja yang pengap, bunyi bising, atau perjalanan panjang menuju tempat kerja bisa menjadi sumber keresahan. Tekanan juga muncul ketika seorang pekerja tidak memahami apa yang sebenarnya diharapkan dari tugasnya. Pekerjaan yang berubah-ubah tanpa penjelasan membuat beban terasa bertambah, dan rasa ragu yang menumpuk lama-kelamaan merusak kenyamanan selama bekerja. Lingkungan kerja yang tidak sehat, tuntutan di luar kemampuan, serta upah yang rendah turut disebut sebagai penyebabnya.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menawarkan sejumlah langkah untuk meredakan tekanan tersebut. Salah satunya dengan mengurangi kebiasaan membaca berita atau konten bernada negatif di media sosial, sebab paparan informasi semacam itu membuat pikiran makin kusut. CDC juga menganjurkan agar seseorang membiasakan diri mensyukuri hal-hal yang terjadi pada hari itu, lalu menuliskannya di atas kertas sebagai pengingat.
“Mulailah dari kaki dan lanjutkan ke bagian tubuh lainnya,” demikian salah satu panduan CDC mengenai teknik relaksasi otot progresif.
Teknik itu dilakukan dengan duduk nyaman sambil menutup mata. Setiap kelompok otot ditegangkan selama 20 detik, kemudian dikendurkan selama 20 detik sambil menarik napas. Menceritakan isi hati kepada orang terdekat juga dinilai membantu meringankan beban pikiran.
Kondisi fisik ternyata ikut menentukan daya tahan seseorang terhadap tekanan. Karena itu, tidur cukup sekitar tujuh jam setiap malam perlu dijaga. Tubuh juga sebaiknya diajak bergerak lewat olahraga ringan. Asupan makanan pun mesti diperhatikan dengan memperbanyak buah dan sayuran, sementara konsumsi alkohol, rokok, dan vape sebaiknya dibatasi demi kesehatan jangka panjang.
Langkah terakhir adalah menetapkan batas tegas antara urusan kantor dan kehidupan pribadi. Waktu bersama keluarga dan teman perlu disisihkan, dan kebiasaan bekerja di luar jam kerja sebaiknya dikurangi agar pikiran tidak terus tersandera oleh pekerjaan. Dengan begitu, tekanan yang datang dari rutinitas harian bisa diredam sebelum berdampak lebih jauh.
Upaya menjaga kesehatan mental ini sejalan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia. Di Banyuwangi, Jawa Timur, sejumlah orang mengikuti sesi yoga relaksasi pada Minggu (11/10/2026) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan jiwa melalui peregangan dan relaksasi tubuh.



