Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi lonjakan curah hujan yang bisa memicu banjir dan tanah longsor di berbagai daerah. Puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi berlangsung pada Desember hingga Februari mendatang, dengan curah hujan yang umumnya lebih besar dibanding kondisi normal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa jarak antara awal masuknya musim hujan dan puncaknya umumnya berlangsung berdekatan. Karena itu, ia meminta semua pihak mewaspadai lonjakan curah hujan pada periode tersebut lantaran berpotensi menimbulkan dampak turunan seperti banjir dan longsor. Peringatan itu disampaikannya dalam konferensi pers daring pada Selasa (22/9).
BMKG juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla), khususnya pada September-Oktober. Selain itu, instansi ini mendorong pengoptimalan sistem drainase dan kesiapan evakuasi guna mengantisipasi bencana banjir dan longsor pada awal hingga puncak musim hujan.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan sejumlah wilayah yang secara historis rawan bencana hidrometeorologi saat musim hujan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua, dan sebagian Maluku. Menurutnya, daerah-daerah itu perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang kerap menyertai musim hujan.
Andri menambahkan bahwa periode musim hujan kali ini tergolong pendek, namun curah hujannya umumnya lebih besar dan berada pada kisaran normal. Kondisi inilah yang menurutnya perlu diantisipasi karena hujan berpotensi turun secara intens pada bulan-bulan tersebut.
Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim hujan di Indonesia tersebar pada beberapa bulan. Sebanyak 155 ZOM atau sekitar 39,64 persen luas daratan Indonesia diprediksi mencapai puncak musim hujan pada Desember 2026. Sementara itu, 162 ZOM atau setara 25,68 persen luas daratan diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Januari, dan 190 ZOM atau 16,79 persen luas daratan pada Februari.
ZOM atau Zona Musim adalah wilayah yang memiliki pola musim hujan dan kemarau yang relatif seragam. Pemetaan ini menjadi dasar bagi BMKG dalam menyusun prakiraan serta peringatan dini di sektor pertanian, kebencanaan, dan pengelolaan sumber daya air.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mempersiapkan langkah mitigasi sejak dini. Kesiapan infrastruktur drainase, jalur evakuasi, hingga informasi peringatan dini dinilai krusial agar dampak bencana pada awal dan puncak musim hujan dapat ditekan.



