Beras fortifikasi memiliki kandungan gizi tambahan yang berbeda dari beras biasa. Proses pencucian yang salah justru bisa mengikis manfaat tersebut. Karena itu, konsumen perlu memahami cara mencuci yang benar sebelum memasaknya.
Penambahan vitamin dan mineral ke dalam beras dilakukan lewat sejumlah teknologi, antara lain dusting dan coating. Masing-masing teknologi punya daya tahan berbeda terhadap air. Metode dusting meletakkan campuran gizi di permukaan butiran, sehingga paling rentan larut saat dicuci.
Sebuah riset berjudul Rice Fortification by Parboiling in Limited-Water Soaking to Alleviate Mineral and Vitamin Deficiency (2020) mengungkap bahwa beras bisa menjadi sarana efektif untuk menyalurkan zat gizi mikro ke masyarakat luas. Namun, penelitian itu juga mencatat bahwa pada metode dusting, sekitar 20 hingga 100 persen zat gizi tambahan berpotensi hilang ketika proses pencucian dan pemasakan memakai air berlebihan.
Pakar Gizi Universitas Andalas, Syahrial, mengungkapkan hal senada. Menurutnya, sejumlah mikronutrien dalam beras fortifikasi bisa berkurang saat dicuci. Vitamin B1, vitamin B12, dan asam folat disebut lebih mudah luruh dibandingkan mineral seperti zat besi dan zinc.
Syahrial menyarankan agar beras tidak diremas selama dicuci. Air cukup dituangkan ke wadah berisi beras, lalu butiran dibolak-balik dengan gerakan ringan sebelum air dibuang. “Cara mencuci beras fortifikasi dapat dilakukan hanya satu kali dengan gerakan perlahan,” ujarnya.
Beras tidak perlu digosok, diremas, maupun dibilas berkali-kali. Semakin sering bersentuhan dengan air, semakin besar kemungkinan vitamin yang ditambahkan ikut terbuang. Cukup satu kali pencucian dengan gerakan lembut untuk menjaga kandungan gizinya.
Kendati demikian, mencuci beras tetap diperlukan untuk membersihkan debu, kotoran, atau benda asing yang mungkin terbawa selama pengolahan dan penyimpanan. Air cucian yang tampak keruh pun bisa berasal dari lapisan pati yang menempel di permukaan butiran, bukan semata-mata kotoran.
Dengan memahami karakteristik beras fortifikasi, masyarakat dapat memperoleh manfaat gizi secara maksimal tanpa mengorbankan kebersihan bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.



