Pelaku ekonomi kreatif Indonesia mendapat ruang konkret untuk menjajaki kerja sama bisnis dan investasi dengan mitra mancanegara lewat perhelatan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Forum itu mempertemukan pelaku industri dari 65 negara, termasuk dalam sesi business to business matching yang disiapkan Kementerian Ekonomi Kreatif.
Deputi Pengembangan Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif Mohammed Ali Berawi menegaskan bahwa WCCE 2026 bukan sekadar ajang bertukar pikiran soal kebijakan. Menurutnya, forum tersebut sekaligus membuka jalan kolaborasi antara pelaku ekonomi kreatif, investor, dan lembaga keuangan internasional. “Nanti, ada business to business matching, kita juga dihadiri dari investor ekonomi kreatif dan lembaga keuangan internasional,” ujarnya kepada awak media di Jakarta, Rabu.
Lewat agenda business matching itu, usaha kreatif dalam negeri diharapkan mampu melebarkan jaringan sekaligus menembus pasar internasional. Penjajakan yang terjalin berpeluang berlanjut ke bentuk kerja sama produksi bersama (co-production) hingga investasi. Pada tahap awal, dampak ekonomi yang dibidik dari penyelenggaraan WCCE adalah terbukanya akses pasar internasional dan terbangunnya jejaring kolaborasi.
WCCE 2026 juga menampilkan Creative Village di kawasan SCBD, Jakarta. Ruang tersebut menjadi etalase produk-produk kreatif Indonesia di hadapan mitra internasional. Kegiatan ini diharapkan mempertemukan pengusaha nasional dengan calon mitra bisnis dan investor yang bisa menopang pengembangan usaha mereka.
Sejumlah perusahaan internasional ikut ambil bagian dalam rangkaian acara, antara lain Netflix dan Tencent. Ali menyampaikan bahwa di SCBD mayoritas memang produk kreatif Indonesia, namun sejumlah pihak internasional juga telah menjalani bilateral meeting dan penjajakan produk. Ia menyebut di antaranya Netflix, Tencent, serta berbagai perusahaan dan investasi internasional, dan perkembangan lanjutannya akan dipantau.
Interaksi dengan mitra internasional dipandang menjadi pintu masuk bagi pelaku kreatif untuk memperluas pasar dan mengembangkan usaha melalui kolaborasi lintas negara. Forum ini sendiri mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lain, dengan 133 pembicara dari dalam dan luar negeri serta peserta dari tujuh lembaga internasional.
Dari sisi hasil, WCCE 2026 melahirkan Deklarasi Jakarta Vision on Creative Economy. Dokumen itu diharapkan menjadi pijakan bagi pembahasan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai agenda ekonomi kreatif pasca-2030.
Rangkaian agenda tersebut menjadi jalan bagi Indonesia untuk memantapkan posisinya di pentas ekonomi kreatif global, sekaligus membuka kesempatan usaha lebih luas bagi industri dalam negeri.



