Orang tua masa kini yang besar di dekade 1990-an kerap merindukan suasana masa kecil mereka. Banyak di antara mereka lalu terdorong untuk menghadirkan kembali pola asuh era tersebut di rumah masing-masing. Padahal, zaman sudah jauh berubah: komunikasi kini serba cepat dan terhubung tanpa sekat, sementara tiga dekade silam interaksi masih jauh lebih terbatas. Justru dari keterbatasan itulah kegembiraan generasi milenial dulu terbentuk.
Digitalisasi memang membuat manusia lebih mudah bersentuhan satu sama lain. Namun perangkat seperti ponsel pintar dan gadget lain kerap mendatangkan gangguan. Tanpa pengawasan, anak bisa tenggelam berjam-jam bermain gim atau menggulir media sosial. Situasi semacam ini nyaris tak ditemui pada 1990-an, ketika pilihan teknologi yang bisa mengalihkan perhatian masih sebatas televisi dan konsol gim.
Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah menekan waktu layar anak. Dengan begitu, mereka memperoleh lebih banyak kesempatan berinteraksi langsung dengan anggota keluarga di rumah. Pembatasan juga sebaiknya berlaku untuk penggunaan media sosial, termasuk mematuhi batas usia yang ditetapkan tiap platform. Soal pemberian ponsel pribadi, sebaiknya ditunda selama mungkin sampai anak benar-benar cukup umur.
Membangun komunikasi keluarga yang sehat juga menjadi kunci. Anggota keluarga perlu saling mengandalkan untuk mengisi waktu menyenangkan, mulai dari mengobrol, belajar, hingga bermain bersama. Orang tua bisa memulainya dengan menyediakan lebih banyak mainan fisik seperti Lego atau aneka board game yang bisa dinikmati bersama. Bagi keluarga dengan lebih dari satu anak, cara ini sekaligus mempererat ikatan antarsaudara.
Kebiasaan berkumpul rutin juga ampuh memperkuat hubungan keluarga. Pada 1990-an, acara kumpul biasanya digelar selepas menyewa CD film. Meski tempat penyewaan film kini banyak yang tutup, tradisi itu masih bisa dihidupkan dengan menjadwalkan nonton bareng melalui platform streaming. Ritual keluarga semacam ini dinilai penting agar anak merasa dunia adalah tempat yang aman dan mudah diprediksi. Selain menonton bersama, ritual bisa diwujudkan lewat makan malam bersama atau liburan.
Minimnya hiburan pada 1990-an nyatanya membuat anak lebih kreatif. Saat tidak terseret ke dalam aktivitas yang sudah tertata, pikiran anak leluasa berkelana dan menjelajah imajinasi. Dari lamunan itulah gagasan-gagasan segar bisa muncul. Karena itu, sesekali membiarkan anak tanpa jadwal belajar tambahan atau les justru melatih mereka mengasah kemampuan memecahkan masalah yang akan berguna kelak.
Orang tua pada era 1990-an banyak yang membebaskan anaknya bermain di luar rumah. Meski faktor keamanan tetap perlu diwaspadai, memberi anak ruang untuk beraktivitas di luar bisa menambah pengalaman bermainnya. Yang tak boleh dilupakan, tetapkan aturan soal waktu pulang dan batas wilayah aman. “Dengan demikian, anak juga diajarkan untuk tanggung jawab atas dirinya sendiri,” pesan sejumlah praktisi pengasuhan.
Berbagai cara di atas bisa menjadi jalan bagi generasi milenial yang ingin anak-anak mereka merasakan sedikit atmosfer kehidupan dekade 90-an. Kuncinya bukan menolak teknologi, melainkan menata ulang keseharian agar interaksi keluarga kembali menjadi pusat hiburan di rumah.



