Inovasi perumahan karya anak bangsa kembali mencuri perhatian di ajang Danantara Housing Expo 2026. WIKA Beton, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, memperkenalkan teknologi bangunan bernama WHOME yang dirancang khusus untuk mempercepat realisasi Program Tiga Juta Rumah. Produk ini tidak sekadar menjanjikan kecepatan konstruksi, tetapi juga mengusung konsep ramah lingkungan dan ketahanan terhadap guncangan gempa.
WHOME merupakan buah dari riset kolaboratif yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Director of Engineering and Production WIKA Beton, Verly Widiantoro, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pembangunan massal adalah faktor kecepatan. Melalui inovasi ini, perusahaan berupaya menjawab kebutuhan hunian secara cepat tanpa mengorbankan kualitas, terutama dengan sistem modular precast yang diproduksi di pabrik lalu dirakit di lokasi layaknya menyusun balok mainan.
Keunggulan utama WHOME terletak pada pengujian ketahanan gempa yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Tingkat keamanan struktur rumah ini teruji dengan Kategori Desain Seismik (KDS) D dari Kementerian Pekerjaan Umum, Bandung. Kolaborasi dengan BRIN memastikan setiap aspek teknis melibatkan riset mendalam dan tenaga ahli eksternal sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Aspek lingkungan juga menjadi perhatian serius dalam pengembangan produk ini. WIKA Beton memanfaatkan material sisa industri seperti fly ash dari limbah batu bara dan slag dari limbah besi sebagai komponen bangunan. Langkah ini dinilai strategis untuk menekan emisi karbon sekaligus memberi nilai guna pada limbah yang selama ini kerap menjadi masalah lingkungan.
Teknologi yang dipamerkan bukanlah sekadar prototipe. WIKA Beton telah menerapkan sistem ini dalam pembangunan rumah di Aceh Tamiang dengan menggunakan konsep mobile plant. Fasilitas produksi bergerak tersebut memungkinkan kapasitas produksi mencapai sekitar lima ribu unit rumah per bulan, bahkan mampu beroperasi di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur.
Sementara itu, CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan hunian tidak cukup hanya dengan menyediakan pasokan rumah. Akses pembiayaan yang ramah bagi pembeli pertama menjadi kunci utama. Dengan menyinergikan ekosistem BUMN properti, Himbara, dan pengembang swasta, Danantara menghadirkan kemudahan uang muka mulai satu persen dengan tenor pembayaran jangka panjang.
Dia menambahkan, gelaran pameran ini merupakan upaya nyata untuk mempertemukan masyarakat dengan beragam pilihan rumah berkualitas di harga terjangkau. Skema pembiayaan kompetitif serta kemudahan akses diharapkan mampu mewujudkan impian kepemilikan rumah bagi lebih banyak warga. Melalui kolaborasi lintas sektor seperti ini, target Program Tiga Juta Rumah dinilai semakin dekat untuk direalisasikan.



