Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menegaskan bahwa kekayaan budaya dan jati diri bangsa bukanlah penghalang untuk bersaing di panggung internasional. Justru sebaliknya, kedua hal tersebut menjadi pembeda yang memberikan nilai tambah bagi pariwisata Indonesia. Pesan itu ia sampaikan saat memberikan sambutan secara daring pada Upacara Wisuda Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Palembang, Kamis (15/10).
Ni Luh berpendapat bahwa identitas budaya adalah aset yang membuat kontribusi Indonesia di kancah global punya keunikan tersendiri. Menurutnya, menjadi bagian dari dunia internasional tidak berarti harus mengorbankan ciri khas yang dimiliki. Ia menekankan bahwa justru identitas itulah yang menjadikan peran Indonesia bernilai dan sulit ditiru.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenpar mengajak para lulusan Poltekpar untuk mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi, berani berlaga di tingkat global, serta menjadikan warisan budaya sebagai fondasi dalam membangun masa depan sektor pariwisata tanah air. Baginya, langkah ini penting agar tren positif industri pariwisata nasional tetap terjaga sehingga membuka lebih banyak kesempatan bagi tenaga ahli dan pengusaha muda.
Data yang dipaparkan menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara telah menyentuh angka 10,58 juta, atau bertambah 5,38 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun jumlah perjalanan wisatawan domestik tercatat 842,15 juta, mengalami kenaikan 4,29 persen secara year-on-year. Sementara itu, devisa dari sektor pariwisata pada semester pertama 2026 mencapai 8,43 miliar dolar AS.
Meski capaian tersebut dinilai menggembirakan, Ni Luh mengingatkan bahwa pertumbuhan kuantitas harus dibarengi dengan peningkatan mutu sumber daya manusia. Ia menekankan pentingnya pelayanan yang profesional, pengalaman wisata yang berkesan, serta dampak ekonomi yang merata bagi masyarakat. Menurutnya, masa depan pariwisata Indonesia tidak semata diukur dari banyaknya kunjungan, melainkan juga dari kualitas pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan.
Kepada para wisudawan, Ni Luh berpesan bahwa kelulusan bukanlah titik akhir dari proses belajar. Ia menyebut momen tersebut sebagai langkah awal untuk mengaplikasikan ilmu, keterampilan, dan karakter yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Bekal itu diharapkan mampu melahirkan karya serta memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan kemajuan pariwisata Indonesia. Para lulusan pun akan dihadapkan pada beragam tantangan, pilihan sulit, dan peluang baru yang menuntut keberanian, kegigihan, serta kemauan untuk terus belajar.
Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Kurniawan Abadi, menyampaikan harapannya agar lulusan Poltekpar Palembang tidak sekadar menjadi tenaga profesional yang mumpuni. Lebih dari itu, ia ingin mereka mampu menciptakan peluang usaha dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat luas.
Direktur Poltekpar Palembang, Iwan Riyadi, mengungkapkan bahwa sebanyak 359 mahasiswa diwisuda pada tahun ini. Rinciannya, program Diploma III meluluskan 120 mahasiswa Program Studi Seni Kuliner, 104 mahasiswa Program Studi Divisi Kamar, dan 90 mahasiswa Program Studi Tata Hidang. Sementara jenjang Diploma IV Program Studi Pengelolaan Konvensi dan Acara meluluskan 39 mahasiswa. Rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) para lulusan mencapai 3,61, mencerminkan capaian akademik yang memuaskan. Prestasi lain yang membanggakan, sebanyak 140 mahasiswa telah mendapatkan pekerjaan di industri sebelum prosesi wisuda digelar.



