Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, sempat terhenti total pada Minggu dini hari. Kewenangan ini diputuskan menyusul hasil uji kertas yang mendeteksi keberadaan partikel abu vulkanik di sekitar area bandara.
Penutupan tersebut berlaku mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB. Langkah tegas ini diambil setelah uji dampak abu yang dilakukan pada pukul 00.35-01.05 WIB menunjukkan hasil yang mengindikasikan adanya partikel vulkanik. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan telah menerbitkan pemberitahuan resmi melalui NOTAM Nomor A3341/26 sebagai bentuk peringatan kepada seluruh penerbang.
Dirjen Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, saat dikonfirmasi pada hari yang sama memaparkan bahwa temuan partikel tersebut berkaitan erat dengan aktivitas erupsi yang terjadi di Gunung Anak Krakatau. Pihaknya memastikan sebaran abu terbawa angin hingga mencapai wilayah udara Tangerang dan sekitarnya.
Akibat kejadian ini, data yang dihimpun hingga Sabtu malam pukul 22.00 WIB mencatat total 33 penerbangan terganggu. Sektor penerbangan internasional menjadi yang paling terdampak dengan 16 rute yang dibatalkan, tujuh lainnya ditunda, dan lima penerbangan harus dijadwalkan ulang. Rute yang terkena imbas meliputi koneksi menuju Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul, Doha, Amsterdam, serta Kuala Lumpur.
Sementara itu, sektor domestik juga mencatatkan empat pembatalan dan satu penerbangan yang terpaksa dialihkan ke bandara lain. Adapun rute dalam negeri yang terganggu mencakup penerbangan dari dan menuju Lampung, penerbangan ke arah Denpasar, serta satu destinasi ke Surabaya.
Menanggapi situasi ini, Lukman menjelaskan bahwa segala keputusan operasional selalu mengedepankan aspek keselamatan penumpang sebagai prioritas mutlak. Penyesuaian jadwal yang dilakukan sejumlah maskapai disebut sebagai bentuk kepatuhan terhadap standar keselamatan yang berlaku di industri penerbangan nasional. Ia menambahkan, kondisi akan terus dievaluasi secara dinamis sesuai dengan perkembangan terbaru di lapangan.
Regulator penerbangan saat ini tengah berkoordinasi intensif dengan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari operator maskapai, pengelola bandara, penyedia layanan navigasi, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Kolaborasi ini ditujukan untuk memantau secara berkala dampak erupsi terhadap keselamatan lalu lintas udara, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta.
Masyarakat atau calon penumpang yang hendak bepergian melalui bandara terbesar di Indonesia ini sangat disarankan untuk terus memantau informasi resmi dari pihak maskapai. Pantauan tersebut penting untuk memastikan status keberangkatan di tengah potensi perubahan jadwal yang masih mungkin terjadi. Pihak otoritas juga berjanji akan menyampaikan pembaruan informasi secara transparan jika terdapat perkembangan signifikan terkait operasional penerbangan.
Sebagai informasi tambahan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sebelumnya telah mencatat rentetan letusan dari Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat malam. Aktivitas tersebut diindikasikan sebagai semburan lava dengan durasi gempa mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimal 70 milimeter, menjadikannya intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.



