Layanan penerbangan rute penghubung Jakarta dan Jember di Bandara Notohadinegoro resmi beroperasi normal kembali pada Selasa (8/9). Pembukaan ini dilakukan setelah otoritas kebandarudaraan memastikan kondisi wilayah udara bebas dari ancaman abu vulkanik pascaerupsi Gunung Anak Krakatau dan aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Kepala UPT Kebandarudaraan Bandar Udara Notohadinegoro, Edi Purnomo, menyampaikan bahwa proses pemulihan operasional diawali dengan serangkaian pengujian ketat. Pihaknya mengerahkan metode paper test untuk mendeteksi kandungan partikel abu di sekitar area bandara. Pengujian ini menjadi protokol wajib yang dilakukan berulang kali dalam dua hingga tiga hari terakhir untuk menjamin tingkat keamanan penerbangan.
Pengujian tersebut dinilai krusial lantaran Gunung Semeru turut memperlihatkan aktivitas erupsi pada Minggu (6/9). Letusan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mencapai ketinggian satu kilometer di atas puncak, sehingga berpotensi menyebarkan material abu hingga ke wilayah operasional bandara. Hasil dari uji paper test yang dilakukan menunjukkan respons negatif, yang berarti Bandara Notohadinegoro dinyatakan aman dan layak digunakan untuk aktivitas penerbangan.
Adapun pesawat maskapai Fly Jaya yang menjadi penggerak rute ini sempat mengalami keterlambatan jadwal pada hari pertama pembukaan. Pesawat yang berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma pukul 11.50 WIB itu tercatat mendarat di Jember pada pukul 14.38 WIB, atau sekitar 23 menit lebih lambat dari jadwal normal yang seharusnya tiba pada pukul 14.15 WIB. Meski demikian, proses pergantian penumpang berjalan cepat dan pesawat langsung lepas landas menuju Jakarta pada pukul 15.15 WIB.
Kelancaran operasional ini tidak terlepas dari keputusan pengelola Bandara Halim Perdanakusuma yang turut membuka kembali layanannya. Keputusan tersebut diambil setelah serangkaian pengecekan paper test di bandara tersebut menunjukkan hasil yang aman dari sebaran abu vulkanik. Sinkronisasi status aman antara bandara asal dan tujuan menjadi kunci utama pulihnya konektivitas udara antarkedua kota.
Edi Purnomo mengungkapkan rasa syukurnya atas kembalinya aktivitas normal ini. Dia menilai, dibukanya kembali sejumlah bandara yang sempat lumpuh akibat erupsi Gunung Anak Krakatau merupakan kabar baik bagi kelancaran mobilitas masyarakat, khususnya pada rute yang menghubungkan Jember dengan ibu kota negara.
Situasi ini tentu menjadi angin segar bagi calon penumpang yang sempat menunda perjalanan. Otoritas bandara memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas gunung berapi di wilayah tersebut. Jika sewaktu-waktu terjadi perubahan kondisi, prosedur keselamatan akan langsung diberlakukan sebagai langkah antisipatif.
Dengan beroperasinya kembali rute ini, diharapkan aktivitas ekonomi dan pariwisata di kawasan Jember dan sekitarnya dapat segera bergairah seperti sedia kala. Para pemangku kepentingan diharapkan terus berkoordinasi untuk memastikan kelancaran transportasi udara tetap terjaga di tengah potensi ancaman bencana geologis yang masih mengintai.



