Dua gempa bumi beruntun mengguncang Panama pada Jumat (9/10), memicu kepanikan warga dan mendorong Presiden Raul Mulino menetapkan situasi darurat bencana. Gempa pertama berkekuatan magnitudo 6,6, disusul guncangan kedua yang jauh lebih kuat dengan magnitudo 7,7. Pusat gempa berada di sekitar kota terpencil Pitaloza Arriba, menurut laporan kantor berita AFP.
Kepanikan melanda Kota Panama yang berjarak kurang lebih 200 kilometer dari episentrum. Ribuan orang berhamburan keluar dari gedung-gedung bertingkat saat tanah bergetar. Salomon Andion, warga berusia 46 tahun, mengaku cemas bukan kepalang karena guncangan terasa begitu kuat dan berlangsung lama. Ia menyebut perabot berat seperti lemari, tempat tidur, hingga peralatan dapur ikut bergoyang-goyang.
Rekaman video yang tersebar di media sosial memperlihatkan air tumpah dari kolam renang di atap sebuah gedung berlantai lebih dari 20. Cuplikan lain menampilkan sebuah jembatan di atas Terusan Panama bergetar hebat, meski strukturnya tetap berdiri kokoh saat kendaraan melintas di atasnya.
Di Kota Penonome, Provinsi Cocle, seorang perempuan bernama Juana Alveo (38) mengungkapkan kecemasannya karena anak perempuannya tertahan di sekolah akibat gempa. Ia menyampaikan hal itu saat berada di sebuah toko di kota tersebut.
Hingga laporan ini disusun, belum ada kabar mengenai korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Laporan kerusakan yang masuk pun tergolong tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan besarnya kekuatan gempa yang terjadi.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) awalnya mencatat magnitudo gempa mencapai 8,0. Namun angka itu kemudian direvisi turun menjadi 7,7. Otoritas sempat mengeluarkan peringatan tsunami, khususnya untuk kawasan Pasifik timur, sebelum akhirnya mencabut peringatan tersebut setelah ancaman dinilai mereda.
Menteri Kesehatan Fernando Boyd menyatakan wilayah yang paling terdampak sejauh ini meliputi Provinsi Herrera, Cocle, serta Los Santos di bagian tenggara. Pemerintah, kata dia, tengah berupaya menjangkau daerah-daerah tersebut melalui jalur udara karena akses darat dinilai tidak memungkinkan.
Presiden Mulino secara tegas menyebut situasi ini sebagai bencana besar. “Kita sedang menghadapi bencana besar,” ujarnya seperti dikutip AFP. Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah memandang gempa kembar ini sebagai peristiwa serius yang membutuhkan penanganan cepat, meski dampak fisik yang dilaporkan sejauh ini relatif terbatas.



