Ketua Parlemen Irak, Haibet al-Halbousi, menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah membiarkan wilayah darat maupun udara Irak dijadikan basis untuk mengancam keamanan Arab Saudi. Penegasan itu ia sampaikan melalui percakapan telepon dengan Ketua Dewan Syura Arab Saudi, Abdullah Mohammed Ibrahim Al-Sheikh, pada Minggu (13/9), sebagaimana diungkapkan kantor media al-Halbousi.
Dalam pembicaraan tersebut, al-Halbousi menyampaikan kecaman keras terhadap sejumlah serangan yang belakangan ini menghantam Arab Saudi. Ia menekankan bahwa Irak menolak segala bentuk penggunaan teritorialnya untuk merugikan negara lain, terutama negara tetangga yang selama ini memiliki hubungan erat dengan Baghdad.
Dari sisi Al-Sheikh, ia memberikan apresiasi terhadap sikap tegas Irak yang menentang setiap ancaman terhadap keamanan dan stabilitas Kerajaan Arab Saudi. Ia juga menyinggung betapa kuatnya ikatan persaudaraan yang terjalin antara rakyat kedua negara, seraya berharap hubungan tersebut terus terjaga di tengah situasi kawasan yang memanas.
Percakapan telepon itu berlangsung hanya sehari setelah Perdana Menteri sekaligus Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Irak, Ali al-Zaidi, memberhentikan komandan Operasi Maysan pada Sabtu (12/9). Pemberhentian itu dilakukan setelah otoritas Irak memastikan bahwa serangan yang diarahkan ke Arab Saudi memang diluncurkan dari sebuah titik di Provinsi Maysan, kawasan selatan Irak.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi pada Jumat (11/9) mengungkapkan bahwa sejumlah drone yang diterbangkan dari Irak menyasar Jalur Pipa Timur-Barat. Akibat serangan itu, muncul korban luka serta kerusakan pada fasilitas terkait. Pemerintah Saudi juga menyatakan bahwa atas permintaan Perdana Menteri Irak, pihaknya memilih menahan diri dan tidak melakukan pembalasan pada tahap ini.
Jalur Pipa Timur-Barat sendiri merupakan proyek strategis yang menelan investasi besar dari Arab Saudi. Infrastruktur ini berfungsi mengalirkan minyak mentah dari ladang-ladang minyak di wilayah timur Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga pengiriman tidak perlu melewati Selat Hormuz yang rawan konflik.
Langkah Irak memecat komandan Operasi Maysan sekaligus pernyataan al-Halbousi memperlihatkan upaya Baghdad menjaga netralitas wilayahnya. Pemerintah Irak tampak berusaha memastikan bahwa konflik regional tidak menjadikan negaranya sebagai jalur peluncuran serangan, terutama terhadap Arab Saudi yang selama ini menjadi mitra penting dalam berbagai bidang.
Kombinasi antara pengakuan otoritas Irak soal asal serangan, pemberhentian pejabat militer, dan komunikasi tingkat tinggi antara parlemen kedua negara menunjukkan bahwa Baghdad dan Riyadh berupaya meredam ketegangan melalui jalur diplomatik. Meski demikian, situasi keamanan di perbatasan dan wilayah selatan Irak tetap menjadi perhatian, mengingat insiden tersebut telah menimbulkan korban dan kerusakan nyata.
Pernyataan terpenting dalam perkembangan ini datang dari al-Halbousi, yang menegaskan bahwa Irak menolak keras segala upaya menjadikan wilayahnya sebagai landasan untuk mengancam keamanan Arab Saudi. Sikap itu sekaligus menjadi sinyal bahwa Baghdad tidak ingin terseret lebih jauh ke dalam pusaran konflik yang dapat merugikan stabilitas kawasan secara keseluruhan.



