Paus Leo XIV menegaskan bahwa membedakan karya seni yang lahir dari tangan manusia dengan hasil produksi mesin menjadi kebutuhan yang mendesak pada era kecerdasan buatan saat ini. Seruan itu disampaikannya melalui platform X pada Jumat (2/10), di mana ia menekankan pentingnya menjaga batas antara ekspresi artistik manusia dan output yang dihasilkan algoritma.
Dalam pernyataannya, Paus menyoroti perbedaan mendasar yang bersifat ontologis antara seni dan hasil buatan mesin. Karya mesin, menurutnya, terbentuk melalui perhitungan statistik yang bertumpu pada jutaan gambar ciptaan orang lain. Proses itu berbeda secara hakikat dari sentuhan kemanusiaan yang melekat pada karya seni sejati.
“Di era kecerdasan buatan ini, membedakan seni manusia dari hasil karya mesin kini menjadi sangat mendesak,” tulis Paus Leo XIV.
Pernyataan tersebut melengkapi sikap yang pernah ia sampaikan pada September lalu. Saat itu, Paus menegaskan bahwa kecerdasan buatan semestinya digunakan untuk menjunjung tinggi martabat manusia, memperkuat perdamaian, serta dilandasi oleh kebijaksanaan dan kepedulian terhadap sesama.
Dorongan agar AI tidak menggerus nilai-nilai kemanusiaan menjadi benang merah dari pesan-pesan Paus Leo XIV dalam beberapa waktu terakhir. Ia konsisten mengingatkan bahwa kemajuan teknologi perlu diarahkan pada penguatan harkat manusia, bukan sekadar efisiensi atau kemampuan komputasi semata.
Sebelumnya, Paus Leo XIV juga memimpin Misa Malam Paskah di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada (4/4/2026). Momen peribadatan itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan yang ia jalani di Vatikan.
Lewat pesan di media sosial, Paus ingin agar publik tidak kehilangan kepekaan terhadap nilai kemanusiaan di tengah derasnya perkembangan teknologi. Pembeda antara seni manusia dan kreasi mesin dinilainya sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian serius, bukan sekadar perdebatan teknis.
Seruan Paus Leo XIV ini menambah daftar panjang suara pemimpin global yang menyoroti dampak kecerdasan buatan terhadap berbagai bidang kehidupan. Gereja Katolik, melalui kepemimpinan Paus, menempatkan martabat manusia sebagai titik sentral dalam menyikapi kemajuan AI.



