Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa praktik penimbunan dan permainan harga masker tidak dapat ditoleransi di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Ia menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Balai Kota Jakarta pada Senin, 7 September 2026. Menurutnya, masker kini menjadi barang kebutuhan pokok yang harus dijangkau seluruh lapisan warga, sehingga tindakan spekulasi yang merugikan publik tidak dibenarkan.
Pramono menjelaskan bahwa situasi ini menuntut solidaritas semua pihak, bukan justru dimanfaatkan untuk keuntungan sepihak. Ia mengingatkan bahwa masker bukan sekadar komoditas dagang biasa, melainkan alat pelindung kesehatan yang krusial dalam kondisi darurat. Pernyataan tegas ini disampaikan sebagai respons atas kekhawatiran lonjakan harga di pasaran setelah wilayah ibu kota mulai terdampak abu vulkanik.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak hanya berhenti pada imbauan pengendalian harga, tetapi juga mengambil langkah konkret dengan tetap menggelar pembagian masker gratis di sejumlah titik keramaian. Program ini dirancang untuk menjangkau warga yang kesulitan memperoleh masker, terutama kelompok rentan yang paling membutuhkan. Distribusi masker dilakukan sebagai upaya preventif sekaligus memastikan akses masyarakat terhadap alat perlindungan diri terpenuhi.
Sehari sebelumnya, tepatnya Minggu 6 September, berbagai instansi telah bergerak lebih awal dengan membagikan masker gratis secara serentak. Satuan Polisi Pamong Praja Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat, Direktorat Samapta Polda Metro Jaya, Polsek Senen, hingga Polsek Metro Kebayoran Baru dikerahkan untuk melaksanakan aksi sosial tersebut. Kehadiran aparat di lapangan menjadi sinyal bahwa penanganan dampak abu vulkanik melibatkan kolaborasi lintas sektor.
Di samping penegakan aturan harga, Pramono juga mengajak warga untuk proaktif menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol 5M ketika lingkungan tempat tinggal mulai terpapar abu vulkanik. Langkah-langkah tersebut mencakup penggunaan masker secara konsisten, serta upaya perlindungan diri lainnya yang disosialisasikan pemerintah. Ia menekankan bahwa kesadaran individual menjadi benteng pertama dalam menghadapi risiko gangguan pernapasan.
Warga diimbau untuk membersihkan endapan abu dengan cara membasahi permukaan terlebih dahulu sebelum menyapu. Metode ini dinilai efektif mencegah partikel halus kembali beterbangan dan terhirup, yang dapat memicu iritasi saluran napas maupun gangguan penglihatan. Apabila muncul gejala seperti sesak napas atau mata perih yang memburuk, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat tanpa menunda.
Koordinasi intensif terus dilakukan Pemprov DKI Jakarta bersama sejumlah lembaga terkait guna memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau. Kerja sama ini melibatkan pemerintah pusat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Badan Geologi Kementerian ESDM, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Data aktivitas gunung dan pola sebaran abu dipantau secara berkala agar langkah antisipasi dapat diambil tepat waktu.
Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, serta mengikuti arahan resmi dari instansi berwenang. Pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan masker dengan harga wajar sekaligus memastikan informasi akurat sampai ke tangan publik. Melalui pengawasan ketat dan partisipasi aktif warga, dampak abu vulkanik diharapkan dapat diminimalkan tanpa menimbulkan kepanikan atau kesulitan akses barang kebutuhan.



