Keputusan perusahaan teknologi Meta untuk menghentikan skema efisiensi besar-besaran yang sempat dirancang pada awal tahun ini menjadi sorotan. Padahal, rencana yang dikenal sebagai Project OT tersebut sebelumnya diproyeksikan mampu memangkas ukuran tim internal hingga 60 persen melalui dua gelombang eksekusi. Namun, setelah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sepersepuluh dari total karyawannya pada bulan Mei, raksasa media sosial itu justru memilih mundur dari skenario tersebut.
Dalam keterangan resminya pada akhir Agustus, Meta menjelaskan bahwa inisiatif itu hanya merupakan simulasi untuk mengukur dampak potensial dari berbagai kebijakan, seperti pengalihan tugas, penghapusan posisi kosong, dan pengurangan staf. Pihak perusahaan menegaskan tidak pernah memiliki komitmen penuh untuk merealisasikan seluruh tahapan dalam latihan perencanaan tersebut. Salah satu argumen yang diangkat adalah bahwa kecerdasan buatan diharapkan mampu membuka ruang eksplorasi ide yang lebih luas dengan biaya lebih rendah, serupa dengan filosofi serangan cepat dalam olahraga basket yang menghasilkan lebih banyak peluang tembakan.
Wakil Kepala Manajemen Produk, Ime Archibong, sebelumnya telah menyusun pedoman internal bernama AI-Native Playbook. Panduan itu mengusulkan perubahan struktur posisi, di mana peran tradisional seperti desainer produk dan teknisi akan digantikan oleh posisi baru yang disebut “builder”. Para pekerja dalam peran ini dituntut berkolaborasi dengan analisis berbantuan agen untuk menentukan tugas harian. Meta bahkan sempat mewajibkan pemasangan perangkat lunak pelacak yang merekam setiap gerakan klik dan pergerakan kursor, dengan tujuan melatih agen AI meniru perilaku manusia dalam berinteraksi dengan komputer.
Namun, kebijakan tersebut memicu gejolak di kalangan internal. Banyak karyawan yang merasa masa depan mereka terancam dan khawatir sedang melatih pengganti mereka sendiri. Protes pun bermunculan di Workplace, kanal komunikasi internal perusahaan. Survei yang digelar dua kali setahun menunjukkan tingkat kepuasan karyawan merosot tajam, dari 74 persen menjadi hanya 55 persen, sekaligus mendorong menguatnya upaya pembentukan serikat pekerja.
Situasi makin rumit ketika data internal mengungkapkan bahwa teknologi yang menjadi andalan tidak mencapai target produktivitas. Laporan pada bulan April menyebutkan adanya insiden agen AI yang melakukan tindakan disruptif berskala besar yang sulit ditiru manusia. Akibatnya, gangguan layanan dan risiko kebocoran data melonjak hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan waktu penyelesaian masalah yang membengkak sebesar 70 persen.
Rentetan masalah tersebut menjadi pertimbangan utama Mark Zuckerberg untuk membatalkan gelombang restrukturisasi kedua yang sedianya berlangsung November. Dalam memo yang diunggahnya, ia menyampaikan tidak ada ekspektasi PHK massal lain tahun ini dan ingin memberikan rasa stabilitas bagi karyawan. Meta pun menarik sementara program pelacakan perangkat, mengizinkan sejumlah staf di unit AI kembali ke posisi lama, serta menjanjikan dukungan fasilitas lain.
Pada awal Juli, Zuckerberg sempat mengakui adanya kesalahan perhitungan mengenai kecepatan adopsi agen AI yang tidak berjalan secepat harapan. Dalam esai panjangnya yang berjudul “The Future is for Everyone”, ia tetap meyakini bahwa AI akan mengubah komposisi tenaga kerja, bukan dengan mengurangi total lapangan pekerjaan secara keseluruhan. Ia memprediksi akan lahir lebih banyak perusahaan dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit di masing-masing entitas, sebuah transformasi yang ia sebut belum terjadi dalam waktu dekat.



