Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan kembali ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, untuk menutup rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Agenda penutupan tersebut akan berlangsung di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said pada Senin, 31 Agustus 2026.
Kepastian kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu dibenarkan langsung oleh Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU, Gus Rozaq. Pihak panitia telah menerima konfirmasi resmi bahwa Presiden akan menutup forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Tanah Air tersebut.
Seusai membuka muktamar pada Kamis, 27 Agustus 2026, di Lapangan Untung Surapati, Prabowo dinilai memberikan kesan mendalam terhadap antusiasme puluhan ribu peserta. Ribuan muktamirin yang memadati lokasi pembukaan disebut menyambut kepala negara dengan sangat meriah, tetapi tetap menjaga ketertiban dan rasa hormat.
Gus Rozaq mengungkapkan bahwa Presiden secara pribadi menyampaikan kekagumannya atas sambutan luar biasa dari para peserta yang hadir saat pembukaan. Ia menambahkan bahwa suasana yang tercipta sangat tertib dan penuh penghormatan kepada Presiden, sebuah pemandangan yang menurutnya jarang terlihat dalam agenda akbar semacam ini.
Sebelum penutupan dilaksanakan, muktamar telah mengambil keputusan penting terkait mekanisme pemilihan ketua umum periode berikutnya. Dalam sidang paripurna, para pemilik suara sepakat untuk mengubah tata cara pemilihan yang selama ini digunakan menjadi skema Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Keputusan tersebut dihasilkan melalui mekanisme voting yang diikuti oleh 552 pemilih. Sebanyak 401 suara menyatakan dukungan terhadap perubahan skema pemilihan, sementara 150 suara lainnya memilih untuk mempertahankan sistem lama. Satu suara dinyatakan tidak sah karena dianggap tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.
Kendati mekanisme baru telah disepakati, penetapan sosok Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa bakti mendatang belum menemui titik terang. Berbagai tahapan teknis yang berkaitan dengan proses penjaringan calon hingga penerapan skema AHWA masih akan menjadi bahan pembahasan dalam sidang lanjutan yang digelar sebelum puncak acara penutupan.
Proses demokrasi internal yang berlangsung dinamis ini menjadi sorotan utama dalam perhelatan muktamar kali ini. Para pengamat menilai perubahan mekanisme ini merupakan langkah signifikan dalam perjalanan organisasi yang berdiri sejak 1926 tersebut.
Rangkaian acara muktamar yang berlangsung selama lima hari itu dijadwalkan rampung setelah acara penutupan yang akan dihadiri Presiden. Meski lokasi pembukaan dan penutupan berada dalam satu kompleks pesantren yang sama, keduanya digelar di tempat yang berbeda, dengan penutupan bertempat di GSG KH Hasbullah Said.



