Kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli di Bidur, Rajendra Dawadi, mengambil keputusan krusial pada Rabu (26/8/2026) siang. Ia memerintahkan evakuasi total terhadap 900 siswa dan 16 staf pengajar hanya 14 menit sebelum gelombang dahsyat menghantam gedung sekolah. Tindakan cepat ini menjadi penyelamat nyawa bagi ratusan warga sekolah di tengah musibah banjir bandang yang meluluhlantakkan kawasan tersebut.
Bencana bermula ketika longsoran es dan batu dari pegunungan memicu meluapnya Sungai Bhotekoshi secara tiba-tiba. Debit air yang meningkat drastis dalam hitungan menit mengubah aliran sungai menjadi banjir bandang yang menghancurkan segala hal di sekitarnya. Sekolah yang berlokasi di Bidur, yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar-mengajar, menjadi salah satu titik terparah yang dilanda arus deras.
Kewaspadaan Dawadi terhadap tanda-tanda alam menjadi faktor kunci dalam penyelamatan ini. Ia mengamati perubahan abnormal pada permukaan sungai dan getaran tanah yang tidak lazim, sehingga langsung memerintahkan seluruh warga sekolah untuk berlari menuju dataran tinggi tanpa membawa barang apa pun. Beberapa guru menggambarkan situasi saat itu kacau namun terorganisir, dengan para siswa langsung membentuk barisan dan mengikuti instruksi dengan sigap.
Setelah seluruh rombongan mencapai tempat aman, gelombang setinggi beberapa meter pun tiba dan meratakan gedung sekolah dalam sekejap. Dari lokasi pengungsian, warga sekolah menyaksikan bangunan yang baru saja mereka tinggalkan hancur tersapu arus. Tanpa keputusan cepat Dawadi, korban jiwa dari kalangan pelajar dipastikan akan jauh lebih besar.
Hingga laporan terakhir dikumpulkan, bencana ini telah merenggut 939 nyawa, sementara sekitar 4.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Operasi penyelamatan yang masif terus dilakukan dengan lebih dari 21.000 personel keamanan dikerahkan ke berbagai wilayah terdampak. Tim pencari menggunakan peralatan berat dan anjing pelacak untuk menjangkau area yang tertimbun material longsor.
Di tengah duka yang mendalam, kisah penyelamatan di Tribhuvan Trishuli menjadi secercah harapan. Lebih dari 10.000 orang telah berhasil diselamatkan dari berbagai lokasi, menurut data resmi yang dirilis otoritas setempat. Para penyintas banjir kini ditempatkan di tenda-tenda pengungsian darurat yang tersebar di beberapa titik aman, sambil menunggu situasi memungkinkan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Dawadi menegaskan bahwa keberhasilan evakuasi ini adalah kerja kolektif seluruh guru dan karyawan sekolah. Ia menambahkan, pelatihan tanggap darurat yang rutin dilakukan setiap bulan terbukti sangat bermanfaat saat situasi genting tersebut terjadi. Para siswa juga telah diajarkan tentang jalur evakuasi dan titik kumpul sejak awal tahun ajaran, sehingga mereka tahu persis apa yang harus dilakukan.
Pemerintah Nepal kini tengah mengevaluasi sistem peringatan dini di daerah rawan bencana, terutama yang berada di lembah sungai. Bencana ini menjadi pengingat pahit bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi kejadian ekstrem di kawasan Himalaya. Sementara itu, proses identifikasi korban dan pencarian orang hilang masih berlangsung, dengan dukungan tim medis dan relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional.



