Pemerintah Brasil dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah kelompok kerja yang akan membahas persoalan tarif. Kesepakatan tersebut diraih setelah berlangsungnya pembicaraan antara Menteri Luar Negeri Brasil Mauro Vieira, Menteri Pembangunan, Perindustrian, Perdagangan, dan Jasa Brasil Marcio Elias Rosa, serta Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer.
Pertemuan ketiga pejabat itu berlangsung di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, di sela-sela rangkaian pertemuan para menteri perdagangan Kelompok 20 (G20). Forum tersebut beranggotakan 19 negara ditambah Uni Eropa dan Uni Afrika.
Dari pihak Washington, sebuah proposal diperkirakan bakal diajukan dalam beberapa pekan mendatang. Dokumen itu akan memaparkan cakupan perundingan, mencakup persoalan tarif hingga berbagai hambatan perdagangan lainnya. Rencana pengajuan proposal tersebut disampaikan oleh kementerian Brasil.
Dalam pertemuan itu, kedua menteri Brasil menegaskan kembali kesiapan pihaknya menempuh jalur dialog dan perundingan guna mencari penyelesaian. Langkah tersebut tetap diupayakan sembari menjaga kepentingan nasional Brasil dan memperbesar peluang usaha bagi pelaku bisnis di kedua negara.
Sebelumnya, Washington telah mengumumkan pengenaan tarif berdasarkan Pasal 301 sebesar 25 persen terhadap sejumlah barang asal Brasil pada 15 Juli. Kebijakan itu kemudian disusul langkah terpisah pada 23 Juli berupa tarif tambahan sebesar 12,5 persen terhadap sejumlah produk impor dari Brasil.
Menurut keterangan kementerian Brasil, kedua kebijakan tarif tersebut berdampak langsung pada sejumlah komoditas ekspor Negeri Samba ke pasar Amerika Serikat. Dampak itu menambah tekanan bagi pelaku usaha di Brasil yang selama ini mengandalkan pasar AS sebagai salah satu tujuan utama ekspor mereka.
Pembentukan kelompok kerja ini menjadi sinyal bahwa kedua negara memilih jalur negosiasi ketimbang eskalasi konflik dagang. Namun, hasil akhir dari perundingan tersebut masih bergantung pada isi proposal yang akan diajukan Washington serta respons Brasil dalam proses pembahasan nanti.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026



