Medali emas Asian Games 2026 di nomor speed putri akhirnya dikalungkan ke leher Desak Made Rita Kusuma Dewi. Atlet panjat tebing Indonesia itu menorehkan waktu tercepat 6,062 detik pada final yang digelar di Portmesse Nagoya Exhibition Hall, Nagoya, Aichi, Jepang, Rabu (30/9/2026). Ia hanya unggul 0,002 detik atas Deng Lijuan dari China yang menempati posisi kedua dengan catatan 6,064 detik. Adapun medali perunggu menjadi milik Jimin Jeong asal Korea Selatan yang mencatatkan waktu 6,18 detik.
Kemenangan ini bukan sekadar hasil sekali jadi. Dua tahun sebelumnya, tepatnya pada Olimpiade 2024 di Paris, Desak Rita datang dengan modal mengesankan sebagai juara dunia speed putri 2023. Gelar itu diraihnya di Bern, Swiss, setelah mengalahkan Emma Hunt—rival yang hingga kini masih menjadi pesaing utamanya. Di Paris, Desak Rita, Hunt, Deng Lijuan, dan Aleksandra Miroslaw yang memegang rekor dunia sejak Agustus 2021 sama-sama melaju ke perempat final. Namun langkah Desak Rita dan Hunt terhenti di babak itu, sementara Miroslaw dan Deng melaju ke partai puncak.
Kekalahan dari Deng di perempat final menjadi catatan pahit bagi Desak Rita. Deng kemudian menumbangkan Rajiah Sallsabillah di semifinal, sedangkan Rajiah harus mengakui keunggulan Aleksandra Kalucka pada perebutan medali perunggu. Emas menjadi milik Miroslaw, perak diserahkan kepada Deng. Meski demikian, penampilan Desak Rita di Paris menyisakan jejak tersendiri. Ia sempat memecahkan rekor Olimpiade secara bergantian dengan Miroslaw, Hunt, dan Zhou Yafei. Zhou mencatat 6,54 detik lebih dulu, disusul Desak Rita dengan 6,52 detik, Hunt 6,36 detik, dan Miroslaw menutupnya dengan 6,06 detik yang sekaligus menjadi rekor dunia.
Rekor dunia yang diukir Miroslaw itu akhirnya runtuh pada 4 Juli 2026. Emma Hunt yang memecahkannya dalam ajang World Climbing Series tahun ini. Hingga enam seri pertama digelar, persaingan di klasemen masih ketat. Hunt bertengger di puncak dengan 3.636 poin. Di bawahnya, Polina Khalkevych dari Ukraina menempati peringkat kedua, sementara Desak Rita berada di posisi ketiga dengan 3.070 poin—terpaut hanya lima poin dari atlet Ukraina tersebut.
Bagi Desak Rita, posisi di tiga besar klasemen dunia itu membuktikan konsistensi yang tidak pernah putus. Ia tidak pernah memadamkan mimpinya, justru merawatnya dengan kerja keras dan ambisi yang kian membesar dari waktu ke waktu. Kegagalan di Paris dua tahun silam tidak membuatnya terpuruk. Sebaliknya, hal itu menjadi bahan bakar untuk terus memperbaiki diri.
Medali emas di Nagoya menjadi pembuktian bahwa kegigihan Desak Rita berbuah manis. Ia bukan hanya kembali ke jalur kemenangan, tetapi juga menunjukkan bahwa jarak antara dirinya dan para pesaing teratas semakin tipis. Selisih 0,002 detik atas Deng di final Asian Games 2026 menggambarkan betapa ketat persaingan di nomor speed putri, sekaligus menegaskan bahwa Desak Rita layak diperhitungkan di level tertinggi.
Ke depan, posisi Desak Rita di klasemen World Climbing Series masih terbuka untuk terus naik. Dengan selisih hanya lima poin dari peringkat kedua, peluang menyalip Khalkevych tetap terbuka lebar. Yang jelas, medali emas Asian Games 2026 menambah panjang daftar prestasi Desak Rita dan memperkuat posisinya sebagai salah satu atlet panjat tebing terbaik Indonesia.



