Kekosongan kepemimpinan di puncak pemerintahan Iran memicu kegelisahan yang meluas. Setengah tahun berlalu sejak menjabat sebagai pemimpin tertinggi, putra Ali Khamenei itu belum juga menunjukkan eksistensinya di hadapan publik. Kondisi ini membuat banyak kalangan, bahkan dari pendukung setia rezim, mulai mempertanyakan efektivitas pemerintahan yang sedang berjalan.
Ketiadaan kabar dan bukti visual tentang keberadaan pemimpin baru tersebut dianggap sebagai masalah serius. Di kalangan milisi sukarelawan Basij yang bermarkas di Qom, pusat pendidikan agama Syiah, suara keraguan mulai terdengar. Seorang anggota milisi yang enggan disebutkan identitasnya mengaku yakin sang pemimpin masih membuat keputusan penting. Namun, ia menegaskan bahwa tidak adanya satu pun foto yang beredar telah merusak moral pendukung dan menimbulkan kerugian besar bagi stabilitas negara.
Gelombang skeptisisme yang lebih tajam datang dari warga yang menuntut reformasi. Shahrokh, seorang pengusaha pro-reformasi di Teheran, menyampaikan kekhawatiran yang lebih dalam. Ia mempertanyakan apakah pemimpin tersebut masih hidup, mengingat tidak ada bukti nyata yang menunjukkan keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan negara. Keraguan ini dinilainya sangat wajar karena mustahil seorang pemimpin tidak meninggalkan jejak sama sekali selama berbulan-bulan.
Di sisi lain, para pejabat tinggi Iran bersikukuh bahwa kepemimpinan tetap berjalan normal. Mereka menyatakan bahwa pemimpin tertinggi masih memegang kendali penuh dan memimpin dari balik layar. Alasan utama di balik sikap tertutup ini adalah faktor keamanan, mengingat ia sedang dalam masa pemulihan dari luka serius di wajah akibat serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel. Dalam praktiknya, sebagian besar urusan harian didelegasikan kepada sekelompok tokoh penting negara.
Namun, penjelasan tersebut tidak cukup meredam spekulasi yang berkembang di masyarakat. Seorang analis dari Middle East Institute di Washington, Alex Vatanka, menilai pertanyaan krusial saat ini bukan lagi tentang kondisi fisik pemimpin, melainkan apakah Iran masih memiliki pemimpin tertinggi yang fungsional. Ia menyoroti bahwa dalam sistem Republik Islam, suara pemimpin seharusnya bersifat mutlak dan selalu terdengar.
Fakta lain yang menambah kejanggalan adalah ketidakhadiran pemimpin tersebut pada rangkaian upacara pemakaman ayahnya sendiri pada Juli lalu. Satu-satunya komunikasi dengan rakyat hanya melalui pernyataan tertulis yang dibacakan penyiar berita. Keheningan total ini memicu spekulasi tentang adanya upaya pembunuhan yang gagal dan kekhawatiran akan serangan susulan.
Meski demikian, Presiden Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa dirinya telah mengadakan pertemuan maraton selama tujuh jam dengan pemimpin tertinggi pada 10 Agustus lalu. Pernyataan ini menunjukkan bahwa roda pemerintahan tetap berputar meski ada banyak misteri yang menyelimuti. Sementara itu, Garda Revolusi dilaporkan semakin dominan dan menjadi pusat pemikiran strategis dalam sistem yang ditata ulang di sekitar Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Lingkaran elite ini melibatkan komandan senior Garda Revolusi serta tokoh politik kunci seperti Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammed Baqer Qalibaf.



