Pertanyaan soal kapan minyak bumi bakal habis sering muncul di tengah masyarakat. Banyak yang kemudian menghitung secara sederhana: cadangan minyak dunia dibagi konsumsi harian, lalu muncul angka sekitar 40 tahun. Namun, cara pandang seperti itu dinilai tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Sebab, cadangan minyak bukanlah isi tangki bahan bakar yang jumlahnya terus menyusut tanpa perubahan.
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) melalui Annual Statistical Bulletin 2026 mencatat permintaan minyak dunia rata-rata mencapai 105,15 juta barel per hari sepanjang 2025. Sementara produksi minyak mentah dunia berada di level rata-rata 74,85 juta barel per hari. Data OPEC juga menunjukkan cadangan minyak mentah terbukti dunia hingga akhir 2024 sekitar 1,567 triliun barel. Jika angka cadangan tersebut dibandingkan langsung dengan konsumsi harian, hasilnya memang berada di kisaran 40 tahun. Akan tetapi, hitungan itu bisa berubah ketika ditemukan cadangan anyar, teknologi berkembang, harga minyak bergerak, dan kondisi produksi mengalami pergeseran.
Energy Information Administration (EIA) memakai rasio cadangan terhadap produksi untuk memperkirakan usia cadangan minyak. Meski begitu, lembaga ini mengingatkan bahwa ukuran tersebut berpotensi menyesatkan bila dipakai sebagai ramalan jangka panjang. Seiring kemajuan teknologi dan munculnya proyek-proyek baru, jumlah cadangan yang bisa diproduksi ikut berubah. Dunia pun tidak perlu menunggu seluruh minyak di perut bumi benar-benar kering sebelum berhenti memakainya.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan Oil 2025 menyebut permintaan minyak global diprediksi naik hingga sekitar 105,5 juta barel per hari pada akhir dekade ini. Setelah itu, permintaan diperkirakan memasuki fase datar dan mulai menurun sedikit pada 2030. Proyeksi tersebut disusun berdasarkan kebijakan dan tren pasar yang berlaku saat laporan dibuat. Perbedaan angka antarlembaga memperlihatkan tidak ada satu prediksi tunggal soal masa depan minyak bumi.
Berbagai faktor membuat perhitungan terus bergeser. Asumsi soal kebijakan pemerintah, pertumbuhan ekonomi, perkembangan kendaraan listrik, teknologi energi bersih, dan kondisi pasar semuanya berpengaruh. Tingkat produksi, harga, kebijakan energi, penemuan cadangan anyar, serta kemajuan teknologi bisa mengubah hitungan dari waktu ke waktu. Karena itu, angka cadangan tidak bisa dibaca sebagai patokan final.
Kendaraan listrik memang menjadi salah satu pendorong penurunan permintaan minyak. Namun, minyak bumi juga dipakai untuk banyak kebutuhan lain. Bahan bakar pesawat, industri, hingga produk petrokimia sehari-hari masih bergantung pada komoditas ini. Artinya, meski bensin dan solar berkurang pemakaiannya, kebutuhan minyak tidak otomatis lenyap. Transisi energi pun tidak sekadar mengganti kendaraan berbahan bakar minyak dengan kendaraan listrik, tetapi juga mencari alternatif bagi beragam pemanfaatan minyak lainnya.
BPMA bersama LEMIGAS dan KKKS tercatat pernah melakukan pengujian serta verifikasi minyak hasil sumur masyarakat di wilayah kewenangan Aceh pada Kamis (17/9/2026). Aktivitas itu menunjukkan minyak masih menjadi komoditas yang diperhitungkan, termasuk di daerah. Sementara di tingkat global, belum ada satu tahun yang bisa disebut sebagai tanggal pasti habisnya minyak bumi dunia.
Pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar kapan minyak bumi habis. Yang lebih penting adalah seberapa cepat dunia menurunkan ketergantungan terhadap minyak dan bagaimana kebutuhan energi dipenuhi ketika permintaannya mulai turun. Dengan tren transisi energi saat ini, perubahan besar dalam penggunaan minyak berpotensi terjadi jauh sebelum seluruh cadangan di dalam bumi benar-benar habis.



