Bencana erupsi kembali melanda Gunung Sinabung yang berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Material abu vulkanik yang dimuntahkan gunung tersebut terbawa arus angin hingga mencapai dua kecamatan sekaligus. Kecamatan Berastagi dan Kabanjahe kini diselimuti lapisan abu pekat yang mengganggu aktivitas warga setempat.
Armen Putra yang menjabat sebagai Kepala Pos Pemantau Gunung Sinabung menyampaikan bahwa sebaran abu terbawa angin ke arah timur dan tenggara. Berdasarkan pantauan sementara, wilayah Berastagi menjadi area pertama yang terkena dampak, kemudian meluas hingga ke Kabanjahe dan berpotensi menjangkau daerah yang lebih jauh lagi.
Erupsi pertama tercatat memuntahkan kolom abu setinggi 3.500 meter dari puncak gunung. Aktivitas vulkanik tersebut tidak berhenti sampai di situ, melainkan berlanjut dengan serangkaian erupsi susulan yang hingga kini masih terjadi. Tinggi kolom abu dari erupsi lanjutan tersebut diperkirakan mencapai 500 meter di atas puncak.
Pihak pemantau memberikan peringatan tegas kepada masyarakat, pengunjung, dan wisatawan untuk menjauhi sejumlah area berbahaya. Wilayah yang dilarang untuk dikunjungi meliputi desa-desa yang telah direlokasi serta lokasi dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung. Larangan juga diberlakukan untuk area dengan radius enam kilometer di sektor selatan-timur.
Warga yang bermukim di dekat aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lahar dingin. Pemerintah Kabupaten Karo diharapkan segera berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung untuk langkah penanganan lebih lanjut.
Status Gunung Sinabung resmi dinaikkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Kenaikan status tersebut merupakan respons atas meningkatnya aktivitas vulkanik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, gunung api yang terletak di dataran tinggi Karo ini terakhir kali menunjukkan aktivitas erupsi pada tahun 2022.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang. Koordinasi antara pemerintah daerah, tim penanggulangan bencana, dan warga menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi darurat ini. Seluruh pihak diharapkan mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan demi keselamatan bersama.



