Mengoleksi mainan, merakit balok, hingga menghadiri acara bertema anime dan komik bukan lagi monopoli anak-anak. Kalangan dewasa kini ramai-ramai kembali menekuni hobi masa kecil lewat tren yang dikenal sebagai kidulting. Istilah itu gabungan dari kata kid (anak) dan adult (dewasa) dalam bahasa Inggris, merujuk pada kebiasaan orang tua menikmati aktivitas yang lekat dengan dunia kanak-kanak.
Survei lembaga riset dan analisis pasar Harris Poll dalam laporan “The Rise of Kidulting Report” menemukan 80 persen orang dewasa masih melakukan aktivitas bermain. Proporsi itu melonjak hingga 95 persen di kalangan Generasi Z. Responden dalam survei tersebut dikelompokkan ke dalam empat kategori usia, yakni Gen Z (18-29 tahun), Millenial (30-45 tahun), Gen X (46-61 tahun), dan Boomer (62 tahun ke atas).
Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Lolly Coleman menjelaskan, mengulang aktivitas yang disukai semasa kecil membantu seseorang mengingat kembali rasa bebas dan senang yang pernah dirasakan. Menurutnya, otak diajak kembali pada pengalaman kebebasan dan kesenangan yang tersimpan sejak masa kanak-kanak. Coleman, yang menjabat direktur kualitas dan keterlibatan di penyedia layanan Rula, menambahkan bahwa kegiatan semacam itu membuat orang dewasa merasa lebih bahagia serta hadir sepenuhnya di momen yang sedang dijalani.
Kegiatan seperti menggambar, merakit mainan, dan membuat kerajinan tangan juga berfungsi sebagai alternatif yang menjauhkan seseorang dari layar perangkat digital. “Dengan melakukan aktivitas atau hobi yang dinikmati saat kecil, seseorang mengingatkan otaknya pada kebebasan dan kesenangan yang pernah dirasakan,” ujar Coleman.
Kendati demikian, tren ini tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan dan tanggung jawab sehari-hari. Coleman mengingatkan bahwa hobi tersebut bisa menjadi persoalan apabila mulai mengganggu kewajiban atau membuat seseorang sulit menjalankan aktivitas rutin. Ia menyarankan agar orang dewasa tetap menikmati minat masa kecil selama kegiatan itu membawa kebahagiaan dan tidak mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.
Fenomena bernostalgia dengan benda dan kebiasaan lama sebenarnya juga tampak di ruang publik. Sebuah galeri independen berkonsep warung tempo dulu di Padang, Sumatera Barat, mengumpulkan berbagai produk konsumsi, mainan, kosmetik, media cetak, buku, hingga barang elektronik klasik dari era 1960-an sampai 1990-an. Galeri Kapsul Waktu Nusantara itu dibuka gratis 24 jam sebagai ruang bernostalgia, berdiskusi, sekaligus wadah merawat memori kolektif masa lalu.
Antusiasme terhadap kidulting menunjukkan bahwa bermain bukan sekadar pengisi waktu luang. Bagi banyak orang dewasa, aktivitas tersebut menjadi cara meredakan stres dan mengembalikan kegembiraan yang kerap tergerus rutinitas.



