Kota kecil yang terisolasi oleh barisan pegunungan dan aliran sungai kini punya solusi transportasi pendidikan yang tak biasa. Di Bo’ai, Kabupaten Funing, Provinsi Yunnan, China barat daya, armada kapal feri khusus beroperasi setiap hari untuk mengantar anak-anak menuju sekolah, menggantikan rute darat yang berbahaya dan penuh tikungan tajam.
Sebanyak 329 murid dari berbagai desa di sekitar Bo’ai kini memanfaatkan layanan transportasi air gratis yang disediakan pemerintah setempat. Mereka dijemput dari dermaga dekat rumah masing-masing dan diantar langsung ke sekolah di pusat kota Bo’ai. Jadwal keberangkatan kapal disesuaikan dengan jam masuk dan pulang sekolah, sehingga para siswa tidak perlu khawatir terlambat atau menunggu terlalu lama.
Sejak program ini diluncurkan pada tahun 2021, tercatat lebih dari 147.000 perjalanan telah dilakukan oleh armada tersebut. Jumlah itu menunjukkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap moda transportasi air ini, terutama mengingat medan darat yang selama bertahun-tahun menjadi hambatan terbesar bagi anak-anak untuk mengakses pendidikan.
Sebelum layanan feri gratis hadir, para pelajar harus menempuh rute yang menguras tenaga dan waktu. Mereka terpaksa melewati jalan pegunungan dengan kendaraan umum yang tidak selalu tersedia, atau menyebrang sungai menggunakan perahu swasta yang biayanya ditanggung orang tua masing-masing. Kondisi itu kerap membuat anak-anak kelelahan sebelum sampai di kelas.
Kehadiran tujuh bus sekolah air yang beroperasi di 12 titik penyeberangan itu mengubah situasi secara drastis. Pemerintah Bo’ai bersama instansi terkait merancang sistem ini untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan pelajar selama perjalanan. Setiap kapal dilengkapi alat keselamatan standar dan dijalankan oleh operator yang telah mendapat pelatihan khusus.
Foto-foto yang dirilis oleh kantor berita Xinhua pada 30 Agustus 2026 memperlihatkan deretan feri yang mengangkut siswa melintasi permukaan sungai yang tenang. Satu di antaranya diabadikan melalui kamera drone, menunjukkan barisan kapal yang bergerak tertib mengikuti jalur yang telah ditentukan di antara hamparan perbukitan hijau.
Kepala daerah setempat menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang putus sekolah karena kendala geografis. Pemerintah berencana memperluas layanan serupa ke wilayah terpencil lain yang memiliki kondisi medan serupa.
Keberhasilan program bus sekolah air di Bo’ai ini menjadi contoh konkret bagaimana solusi transportasi kreatif bisa menjawab tantangan infrastruktur di daerah pegunungan. Ini membuktikan bahwa keterbatasan geografis tidak harus menjadi penghalang bagi anak-anak untuk meraih pendidikan yang layak.



