Mobil-mobil ambulans melaju di antara tumpukan lumpur dan puing, sementara tim penyelamat berjibaku membongkar material longsor yang menelan permukiman di kaki Pegunungan Himalaya. Bencana dahsyat yang melanda kawasan perbatasan China-Nepal pada Rabu lalu itu telah menewaskan sedikitnya 165 orang. Angka ini dipastikan masih akan bertambah karena otoritas setempat melaporkan 826 warga Nepal, termasuk 600 turis asing, belum dapat dihubungi lebih dari 24 jam pasca-kejadian.
Di sisi perbatasan Tibet, pemerintah China mencatat 558 orang dilaporkan hilang dengan 260 di antaranya merupakan warga negara asing. Jika data dari kedua negara digabungkan, total warga yang belum ditemukan mencapai 1.384 jiwa. Kendati demikian, para pejabat belum dapat memastikan apakah angka tersebut saling tumpang tindih atau memang benar-benar terpisah. Dari daftar warga asing yang hilang, pihak Nepal mendata 177 di antaranya berasal dari India, 63 dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, serta 25 warga Kanada.
Presiden China Xi Jinping langsung mengeluarkan instruksi keras kepada seluruh jajaran petugas di lapangan untuk mengerahkan kemampuan terbaik dalam pencarian korban hilang. Dia menekankan bahwa evakuasi warga yang berada dalam zona bahaya harus diutamakan, sembari memastikan akses perawatan medis bagi para korban luka dapat diberikan secara cepat dan tepat. Target utamanya, tegas Xi, adalah menekan jatuhnya korban jiwa seminimal mungkin.
Lebih lanjut, pemimpin China itu menyoroti perlunya penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini. Dia mengingatkan bahwa negeri tersebut tengah berada dalam fase kritis pengendalian banjir. Oleh sebab itu, pemerintah daerah dan seluruh departemen terkait diminta untuk menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk serta kondisi ekstrem. Langkah preventif berupa pencegahan banjir dan topan juga harus diperketat, termasuk identifikasi serta penanganan potensi risiko dan bahaya sejak dini.
Perdana Menteri Li Qiang turun tangan dengan memerintahkan verifikasi segera atas data jumlah korban hilang dan terdampak. Dia juga menuntut adanya operasi penyelamatan dan bantuan yang berjalan menyeluruh di semua sektor. Dalam instruksinya, Kementerian Luar Negeri China diperintahkan untuk memperkuat jalur komunikasi dan koordinasi dengan negara-negara terkait. Pertukaran informasi harus segera dilakukan agar upaya penyelamatan bersama dapat ditangani secara tepat dan efektif.
Video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan betapa ganasnya banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut. Arus deras terlihat menghantam gedung-gedung, rumah warga, jalan raya, hingga proyek pembangunan yang sedang berjalan. Material longsor ikut menenggelamkan puluhan rumah dan kendaraan dalam hitungan menit. Tim gabungan penyelamat hingga kini masih berupaya menjangkau sejumlah titik terisolasi yang putus akses jalannya.
Sementara itu, Badan Bencana Nepal terus memperbarui data korban dari waktu ke waktu. Proses identifikasi korban tewas dilakukan di rumah sakit-rumah sakit rujukan yang kewalahan menerima kedatangan jenazah. Pemerintah Nepal dan China disebut telah membuka jalur komunikasi khusus untuk memadukan data pencarian, meskipun kompleksitas medan menjadi tantangan terbesar dalam operasi kemanusiaan ini.



