Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan peringatan keras kepada negara-negara Eropa terkait rencana pengerahan pasukan ke Ukraina. Dalam pertemuan dengan awak media di Istanbul pada Jumat (11/9), ia menegaskan bahwa langkah tersebut akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap Moskow. Pernyataan ini pertama kali dilaporkan oleh kantor berita negara Rusia, Tass.
Putin menilai diskusi yang tengah berlangsung di kalangan negara Eropa soal pengiriman tentara ke Ukraina merupakan jalan menuju konfrontasi langsung dengan Rusia. Ia menyamakan rencana itu sebagai bentuk permusuhan terbuka, bukan sekadar keterlibatan tidak langsung. “Itu berarti perang dengan Rusia,” ujarnya kepada para jurnalis.
Dalam kesempatan yang sama, pemimpin Kremlin tersebut melontarkan tuduhan bahwa negara-negara Barat memiliki agenda jangka panjang untuk melumpuhkan Rusia. Menurutnya, upaya itu telah berlangsung melalui berbagai cara, mulai dari memanfaatkan kelompok teroris dan separatis di kawasan Kaukasus, lalu beralih ke pendekatan lain, hingga kini melalui rezim yang ia sebut neo-Nazi di Ukraina. Ia menyatakan bahwa tujuan utama dari rangkaian tindakan tersebut tidak lain adalah menghabisi Federasi Rusia.
Putin membantah anggapan bahwa Moskow memiliki niat mengancam negara-negara di Benua Eropa. Ia menegaskan bahwa Rusia sama sekali tidak memiliki rencana permusuhan terhadap Eropa, bahkan menilai tidak ada alasan mendasar bagi kedua pihak untuk terlibat dalam konflik. Ia juga menyayangkan bahwa fakta tersebut seolah diabaikan dalam narasi yang berkembang di Barat.
Lebih jauh, Putin menyoroti dampak kebijakan energi yang ditempuh negara-negara Eropa. Ia memperingatkan bahwa langkah-langkah yang salah di sektor energi akan berujung pada kenaikan harga gas yang harus ditanggung konsumen. Dalam konteks ini, ia menegaskan bahwa Rusia selama ini menjual sumber daya energinya sesuai dengan harga pasar yang berlaku, bukan berdasarkan tekanan politik.
Pernyataan Putin ini muncul di tengah meningkatnya pembahasan di kalangan negara-negara Eropa mengenai kemungkinan pengiriman pasukan penjaga perdamaian atau misi militer ke Ukraina. Sejumlah ibu kota Eropa disebut tengah mengevaluasi opsi tersebut sebagai bagian dari jaminan keamanan jangka panjang bagi Kyiv. Namun, Moskow secara konsisten menolak segala bentuk kehadiran militer asing di wilayah Ukraina.
Sebelumnya, Putin juga diketahui melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto di Vladivostok, Rusia, pada Kamis (3/9). Dalam jamuan makan siang tersebut, Putin didampingi Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov. Pertemuan itu menjadi bagian dari rangkaian diplomasi Rusia dengan sejumlah negara mitra di kawasan Asia.
Peringatan Putin menambah ketegangan yang sudah tinggi antara Rusia dan negara-negara Barat. Ancaman terbuka bahwa pengerahan pasukan Eropa akan memicu perang langsung menjadi sinyal bahwa Moskow tidak akan mentoleransi eskalasi lebih lanjut dari pihak lawan. Situasi ini menempatkan Eropa pada posisi yang semakin sulit dalam menentukan langkah berikutnya terkait konflik Ukraina.



