Seorang bayi berusia empat bulan bernama Aisya harus menjalani perawatan untuk ketiga kalinya di Puskesmas Jalan Merdeka, Kecamatan Ilir Barat Dua, Palembang. Napasnya terengah-engah dalam gendongan kain sang ibu, Ananda. Wajah kecilnya yang masih kemerahan tampak lelah, seolah tubuh mungil itu kehabisan tenaga untuk sekadar menghirup udara.
Aisya bukan satu-satunya balita yang terdampak. Anak-anak yang belum mampu mengeluh pun turut merasakan dampak kabut asap yang menyelimuti kota. Selama lebih dari dua pekan, Aisya menderita sesak napas, batuk, pilek, dan demam yang tak kunjung reda. Ananda menuturkan bahwa asap menjadi biang keladi keluhan kesehatan buah hatinya tersebut.
Malam-malam menjadi waktu paling berat bagi keluarga ini. Ketika bayi lain terlelap di bawah selimut, Aisya justru terjaga sepanjang malam karena batuk yang terus menyerang. Ananda telah berupaya maksimal melindungi anaknya. Pintu dan jendela rumah mereka di Ilir Barat Dua ditutup rapat, namun asap tetap menyelinap melalui celah-celah kecil yang luput dari perhatian.
“Sudah 3 kali datang ke sini, masih sama, batuk sesak nafas, pilek, anak saya sama, sudah dua minggu lebih, kalau malam batuk-batuk tidak bisa tidur,” ujar Ananda menggambarkan kondisi anaknya.
Perempuan itu juga mengeluhkan pedihnya mata akibat asap yang masuk ke dalam rumah. Ia berharap persoalan ini segera ditindaklanjuti pemerintah, mengingat korban dari kalangan anak kecil semakin bertambah. Rasa kasihan terhadap sesama orang tua yang senasib juga disampaikannya.
Usai pemeriksaan di puskesmas, tangan kanan Ananda menggenggam kantong plastik berisi obat, sementara tangan kirinya menggendong Aisya. Kepulangan mereka dari fasilitas kesehatan tidak serta-merta membawa kesembuhan. Harapan Ananda sederhana, agar asap tak lagi menyusup ke dalam rumah dan udara bersih bisa kembali dinikmati anaknya.
Kondisi yang dialami Aisya menjadi potret kecil dari persoalan kabut asap yang melanda Palembang. Bayi mungil itu terpaksa bersaing mendapatkan udara segar dengan warga dewasa di kota tersebut. Bagi Ananda, pulang dari puskesmas bukan berarti bebas dari masalah, melainkan pulang dengan harapan besar agar lingkungan rumahnya terbebas dari kepungan asap.



