Mengonsumsi buah memang menyehatkan tubuh karena kandungan vitamin, mineral, serta zat alami di dalamnya. Namun, cara mengolahnya ternyata ikut menentukan seberapa besar manfaat yang bisa didapat. Sebagian orang lebih suka menikmati buah dalam bentuk jus, sementara yang lain memilih memakan langsung. Perbedaan cara konsumsi ini rupanya berimbang dengan perbedaan asupan gizi yang diterima tubuh.
Anggapan bahwa nutrisi jus lebih gampang diserap ternyata menyimpan catatan penting. Proses pemerasan dengan mesin membuat sebagian besar serat buah tertinggal di ampas. Akibatnya, kandungan serat dan senyawa tumbuhan yang bermanfaat bagi tubuh menjadi berkurang drastis dibandingkan buah yang dimakan utuh.
Pola makan yang hanya bertumpu pada jus buah dan sayuran segar dalam kurun waktu tertentu dikenal sebagai diet jus atau juice cleanse. Sebagian orang meyakini pola ini mampu membuang racun, menurunkan berat badan, dan melancarkan pencernaan. Sayangnya, keyakinan tersebut belum didukung bukti ilmiah yang memadai. Diet jus berisiko membuat tubuh kekurangan nutrisi dan justru kurang efektif untuk mengontrol berat badan. Dampaknya bergantung pada jumlah, frekuensi konsumsi, serta jenis buah yang dipakai.
Temuan penelitian dari Harvard memberikan peringatan tersendiri. Kebiasaan meminum satu porsi jus buah setiap hari dapat menaikkan risiko diabetes hingga 21 persen. Penyebabnya, jus diserap tubuh dengan cepat sehingga kadar gula darah dan insulin melonjak lebih tinggi setelah dikonsumsi. Sebaliknya, mereka yang mengonsumsi minimal dua porsi buah utuh per minggu berpeluang menurunkan risiko diabetes sampai 23 persen. Jenis buah yang dikaitkan dengan penurunan risiko itu mencakup blueberry, anggur, dan apel.
Dari sisi kalori, satu gelas jus berukuran kurang lebih 240 mililiter menyimpan 100 hingga 180 kalori. Jika diminum berlebihan, angka itu bisa memicu kenaikan berat badan. Karena itu, National Health Service (NHS) menyarankan agar konsumsi jus dan smoothie tidak melebihi 150 mililiter per hari.
Memakan buah utuh dinilai lebih baik karena kaya serat sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Jus buah sendiri memiliki serat dan protein yang lebih sedikit ketika ampasnya dibuang. Padahal, serat berperan penting menjaga kesehatan pencernaan, sedangkan protein membantu memelihara kesehatan tulang dan darah.
“Lebih baik memakan buah utuh yang kaya akan serat yang bisa membuat rasa kenyang lebih tahan lama,” demikian saran yang disampaikan NHS dalam panduannya.
Dengan begitu, memilih buah utuh ketimbang jus bukan sekadar soal selera. Kandungan serat yang utuh, kalori yang lebih terkendali, serta risiko diabetes yang lebih rendah menjadikan buah utuh pilihan yang lebih menguntungkan bagi kesehatan dalam jangka panjang.



