Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai, dua pulau terluar di Kota Makassar, kini dikenal sebagai kawasan konservasi yang menerapkan sistem buka tutup dalam penangkapan hasil laut. Nelayan gurita di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, mulai merasakan dampak positif dari kebijakan tersebut setelah bertahun-tahun menghadapi masa sulit.
Erwin, nelayan berusia 48 tahun, telah mengenal laut sejak pertengahan 1980-an. Mengikuti jejak kakek dan ayahnya, ia terbiasa melaut untuk menangkap ikan dan gurita. Baru sekitar sepuluh tahun terakhir ia menekuni gurita sebagai tangkapan utama. Menangkap gurita memerlukan keahlian membaca kondisi perairan dan mengenali lokasi persembunyian hewan tersebut. Dalam sehari, Erwin bisa memperoleh 15 ekor gurita.
Harga gurita di pengepul jauh lebih tinggi dibandingkan ikan. Sebagian tangkapan Erwin berukuran kurang dari satu kilogram dan tergolong kelas C serta D. Namun, sesekali ia berhasil mendapatkan gurita kelas A dengan bobot lebih dari dua kilogram atau kelas B dengan berat satu hingga 1,9 kilogram. Ukuran-ukuran itulah yang diminati pasar ekspor, termasuk Eropa dan Amerika.
Perjalanan menuju kondisi tersebut tidaklah mulus. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2020 mencatat ekspor gurita asal Sulawesi Selatan mencapai 2,1 juta ekor dengan nilai sekitar 10,7 juta dolar AS. Angka ekonomi yang menggiurkan itu memicu eksploitasi berlebihan. Prinsip lama nelayan sederhana—semakin banyak menangkap, semakin besar penghasilan—perlahan menguras stok di laut.
Akibatnya, hasil tangkapan kian menipis dan ukurannya menyusut. Meski saat itu ada pembatasan sosial yang membuat tidak banyak nelayan melaut, stok gurita tetap menipis. Nelayan pun semakin sulit memperoleh hasil memuaskan. Erwin mengaku paling banyak hanya mendapat tiga hingga lima ekor per hari, dan hasil melaut itu hanya cukup untuk makan.
Kesadaran kemudian tumbuh di kalangan nelayan. Laut tidak bisa terus dipaksa menghasilkan tanpa diberi kesempatan untuk pulih. Sistem buka tutup penangkapan hasil laut pun menjadi jalan keluar yang mulai mereka terima dan jalankan.
Kawasan konservasi di Pulau Lanjukang dan Pulau Langkai menjadi penopang harapan baru. Deru ombak dan semilir angin dini hari menyambut kepulangan para nelayan gurita. Satu per satu perahu ditambatkan di pesisir kedua pulau terluar Makassar itu, membawa hasil tangkapan yang lebih terjaga keberlanjutannya.



