Batas waktu empat jam yang selama seabad menjadi patokan baku dalam pemeriksaan laju endap darah (ESR) kini resmi ditinggalkan. Sebuah studi terbaru yang telah melalui peninjauan sejawat dan dimuat di jurnal Diagnostics mengungkap bahwa sampel ESR yang diukur memakai metode reologi fotometrik melalui analyzer iSED® dari ALCOR Scientific tetap menghasilkan data akurat hingga 28 jam pada suhu ruang, bahkan mencapai 48 jam bila disimpan di lemari pendingin. Angka tersebut setara tujuh kali lebih lama dibandingkan batasan empat jam yang diterapkan metode Westergren konvensional pada suhu kamar.
Temuan ini dipublikasikan dalam artikel berjudul “Measuring Erythrocyte Sedimentation Rate Using Photometric Rheology Technology Demonstrates Superior Sample Stability as Compared to the Westergren Method” di Diagnostics (2026;16(16):2648), hasil kerja Koshy, Lamazares, Evans, dan Jortani. Penelitian berlangsung dengan persetujuan Institutional Review Board (IRB) di dua rumah sakit dan mendapat pendanaan dari ALCOR Scientific. Versi lengkap studi dapat diakses melalui https://www.mdpi.com/2075-4418/16/16/2648.
ESR sendiri merupakan pemeriksaan penanda inflamasi yang murah dan cepat. Dokter memanfaatkannya untuk membantu mendiagnosis serta memantau infeksi, penyakit autoimun seperti artritis reumatoid, kondisi inflamasi semacam arteritis sel raksasa, hingga sejumlah jenis kanker. Berbeda dari tes yang mengukur molekul spesifik, ESR mengamati sebuah proses, yakni kecepatan sel darah merah menggumpal dan mengendap di dalam tabung. Karakter itu membuat hasilnya sangat sensitif terhadap faktor waktu dan suhu.
Kerentanan inilah yang selama ini menyulitkan operasional laboratorium modern. Laboratorium kini kian terpusat di fasilitas berkapasitas besar dengan volume pemeriksaan tinggi, sementara jumlah titik pengambilan darah terus bertambah dan tenaga kerja kian terbatas. Di antara proses pengambilan dan analisis, ada jaringan kurir yang mengangkut sampel dalam satu rute dengan banyak pemberhentian, kerap berlangsung berjam-jam di kendaraan tanpa pengaturan suhu memadai. Menuntaskan tenggat empat jam di sepanjang rantai itu sering kali mustahil.
Persoalan bertambah rumit karena penurunan mutu sampel tidak meninggalkan jejak. Sampel yang sudah memburuk tiba di laboratorium tanpa tanda atau peringatan apa pun, tampak normal seperti biasa, lalu tetap dilaporkan dan dipakai sebagai dasar tindakan medis layaknya sampel lain.
Analyzer iSED menempuh jalur berbeda dalam mengukur ESR. Lewat teknologi reologi fotometrik, alat ini menangkap secara optik proses agregasi sel darah merah, tahap paling awal sekaligus paling krusial dalam pengendapan eritrosit, di dalam sel aliran bersuhu terkontrol. Hasilnya bisa didapat dalam waktu kurang dari 20 detik. Karena membaca fase awal agregasi pada lingkungan yang terjaga, iSED nyaris tidak terpengaruh perubahan seiring waktu yang biasa menurunkan keandalan pengukuran konvensional. Inilah yang membuat stabilitas sampel bertahan tujuh kali lebih lama.
CEO ALCOR Scientific, Jim Post, menegaskan bahwa penambahan masa stabilitas hingga 24 jam lebih lama di suhu ruang bukan melulu soal kenyamanan kerja. “Memberikan stabilitas sampel yang andal selama satu hari penuh bagi laboratorium adalah langkah menuju layanan medis yang lebih baik,” ujarnya.
ALCOR Scientific sendiri mengembangkan teknologi diagnostik yang menyasar efisiensi laboratorium. Perusahaan yang berdiri pada 2011 itu memadukan pemahaman mendalam di bidang biosains dengan teknik manufaktur mutakhir untuk merancang solusi yang memangkas waktu kerja dan meningkatkan perawatan pasien. ALCOR termasuk sedikit penyedia yang menawarkan solusi otomatis sepenuhnya untuk pemeriksaan ESR, mencakup beragam kapasitas pemeriksaan dan alur kerja laboratorium. Informasi lanjutan tersedia di alcorscientific.com.



