Program pembinaan sepak bola di bawah naungan Papua Football Academy (PFA) kini menampung 60 siswa yang tersebar dalam tiga kategori umur, yakni U-13, U-14, dan U-15. Rentang usia para peserta berkisar antara 12 hingga 15,5 tahun. Wolfgang Pikal, yang menjabat sebagai Direktur PFA, memaparkan bahwa pendekatan pembinaan di lembaganya dirancang menyeluruh dan mencakup tiga pilar fundamental.
Pikal menjelaskan bahwa pihaknya ingin mendidik para peserta dalam tiga hal pokok, yaitu pola hidup, pendidikan akademik, dan ilmu sepak bola. Target jangka panjangnya, begitu menyelesaikan program di PFA, para siswa bisa meneruskan sekolah ke jenjang SMA di Pulau Jawa, direkrut Akademi Elite Pro Liga 1, atau diterima di akademi swasta berkualitas. Penjelasan itu disampaikannya di Mimika Sport Complex, Papua Tengah, Selasa (15/9).
Dari sisi metode kepelatihan, PFA mengadopsi pendekatan yang mirip dengan akademi sepak bola di Eropa. Hal ini terutama terlihat pada beban latihan yang diterapkan. Pikal menyebut pemain pemula menjalani sekitar 15 jam aktivitas sepak bola per pekan. Sementara kelompok paling senior berumur 14,5 hingga 15 tahun mendapat porsi lebih berat, yaitu 20 jam per minggu untuk bermain dan analisis pertandingan. Pikal menilai intensitas tersebut sudah menyamai level elite Eropa karena para pemain berlatih hampir setiap hari.
Pencarian bakat menjadi agenda rutin tahunan PFA di seluruh wilayah Papua. Dari sekitar 2.500 anak yang mengikuti seleksi di 18 kabupaten dan kota pada tahun ini, sebanyak 25 anak dipilih untuk direkrut. PFA menjalankan tiga metode perekrutan. Pertama, melalui kunjungan ke kota-kota di Papua oleh seorang pelatih dan seorang administrator yang menggelar pertandingan, lalu mengidentifikasi pemain menonjol. Metode kedua adalah final camp, di mana 60 anak dikumpulkan untuk diseleksi ulang. Adapun cara ketiga baru diterapkan tahun ini, berupa turnamen mini yang melibatkan 8 sampai 10 tim.
Dalam final camp, PFA mengundang 60 anak selama lima hari untuk bermain bola sekaligus menjalani tes kesehatan dan psikologi. Menurut Pikal, dari kegiatan itu dihasilkan laporan menyangkut aspek sepak bola, kesehatan, dan psikologis. Hasilnya kemudian dipakai untuk memilih 20 anak yang masuk PFA Angkatan Lanjutan.
Bagi Pikal, pembinaan di PFA tidak berhenti pada aspek teknik semata. Mantan asisten pelatih Timnas Indonesia ini menekankan pentingnya kesiapan mental anak-anak Papua ketika nantinya berkarier di luar daerah asal. Ia menilai pusat sepak bola nasional berada di Jawa, sehingga para pemain harus siap menghadapi kenyataan menjadi kelompok minoritas di sana. Karena itu, pembinaan dilakukan secara holistik, mencakup teknik, taktik, fisik, dan mental. Salah satu kutipan pentingnya: PFA menilai pusat sepak bola itu ada di Jawa, dan para pemain harus siap mental saat meninggalkan PFA untuk menuju wilayah tersebut.
Sejak berdiri pada Agustus 2022, minat bergabung ke PFA terus naik. Pikal menilai hal itu terjadi karena PFA membuka peluang lebih besar bagi pemain Papua untuk menembus skuad Timnas Indonesia. Masuk PFA dianggap sebagai salah satu jalur menjadi pemain profesional, sekaligus mewujudkan mimpi mengenakan seragam tim nasional.
Hasil pembinaan mulai terlihat melalui kontribusi pemain PFA di kelompok umur Timnas Indonesia. Terbaru, PFA mengirimkan tiga siswa untuk mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-16 di Solo, Jawa Tengah, pada 12 September hingga 11 Oktober 2026. Mereka adalah Alfa Christiano Sawaki yang berasal dari Nabire, Daniel Febrianto dari Merauke, serta Dicky Carthensz Marani asal Jayapura.
Komunikasi dengan PSSI terkait perkembangan pemain muda Papua terus dijalin. Direktur Teknik PSSI Alexander Zwiers sempat meninjau langsung para pemain di PFA sekitar satu setengah bulan sebelumnya. Kedatangannya terjadi setelah menerima banyak masukan positif dari rekannya. Alex menilai pekerjaan, program, kurikulum, dan infrastruktur di PFA sudah tergolong bagus. Berdasarkan hasil kunjungan itu, ia memberi izin kepada PFA untuk mengirim sejumlah anak mengikuti seleksi Timnas U-16 di Kalimantan. Pikal menambahkan, seleksi tahun ini menjaring sekitar 2.500 anak di 18 kota dan kabupaten, dan ia optimistis angkatan baru tak kalah berkualitas dari sebelumnya. Saat ini PFA telah menyumbang satu pemain di Timnas U-19, empat pemain di Timnas U-17, dan tiga pemain di Timnas U-16 Garuda United yang berlatih di Solo.



