Kadar kolesterol yang melonjak dalam darah kerap luput dari kesadaran penderitanya. Sebab, hiperkolesterolemia jarang menimbulkan keluhan yang khas, sehingga banyak orang merasa kondisinya baik-baik saja meski lemak sudah menumpuk di pembuluh darah. Umumnya, seseorang baru menyadari masalah ini setelah menjalani tes darah atau justru ketika komplikasi sudah muncul.
Penumpukan kolesterol berlangsung perlahan dan tidak serta-merta memperlihatkan tanda yang mudah dikenali. Karena itulah, pemeriksaan berkala menjadi kunci untuk mendeteksi kondisi ini lebih awal. Lewat tes darah, kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan trigliserida bisa diketahui secara pasti.
Meski begitu, ada sejumlah kondisi yang bisa menjadi petunjuk adanya timbunan lemak berlebih atau gangguan aliran darah akibat komplikasi. Salah satunya adalah xantoma, yakni benjolan atau endapan kekuningan yang muncul akibat penumpukan lemak di bawah kulit. Benjolan seperti ini biasanya ditemukan di sekitar siku, lutut, tangan, atau bagian tubuh lain, terutama pada orang dengan kadar lemak darah yang sangat tinggi. Kendati demikian, kemunculannya belum tentu menandakan kolesterol tinggi sehingga tetap perlu dipastikan lewat pemeriksaan medis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah nyeri dada. Keluhan ini bisa muncul ketika plak kolesterol menyempitkan pembuluh darah yang memasok darah ke jantung, sehingga memicu angina atau rasa tertekan di dada karena otot jantung kekurangan pasokan darah. Nyeri dada tidak boleh diremehkan, terlebih bila disertai sesak napas, keringat dingin, mual, atau rasa nyeri yang menjalar ke lengan dan rahang. Bila mengalami kondisi tersebut, segera cari pertolongan medis.
Gangguan aliran darah juga dapat terjadi di kaki, yang dikenal sebagai penyakit arteri perifer. Penderitanya bisa merasakan nyeri, kram, atau pegal pada kaki saat berjalan atau beraktivitas, dan keluhan itu biasanya mereda setelah beristirahat. Jika rasa tidak nyaman semacam ini sering muncul, sebaiknya lakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah ada masalah pada aliran darah.
Sementara itu, bila aliran darah ke otak tersumbat atau terganggu, risiko stroke menjadi ancaman. Gejala yang perlu dicermati mencakup wajah yang tampak tidak seimbang, melemahnya satu sisi tubuh secara mendadak, kesulitan berbicara, penglihatan terganggu, sampai tubuh kehilangan keseimbangan. “Gejala stroke merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera,” demikian pesan yang perlu diingat, dan jangan menunggu keluhan reda dengan sendirinya.
Sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, mulai dari pola makan kaya lemak jenuh, minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, berat badan berlebih, pertambahan usia, hingga riwayat keluarga. Untuk menjaganya, masyarakat disarankan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak serat dari sayur dan buah, berolahraga secara rutin, mempertahankan berat badan ideal, serta menjauhi rokok. Anjuran tersebut merujuk pada CDC dan sejumlah sumber lainnya.
Sebagai catatan, dalam kegiatan bakti kesehatan yang digelar di halaman Rumah Sakit Undata Palu, Sulawesi Tengah, pada Minggu (30/8/2026) dalam rangka HUT ke-54 RSUD Undata Palu, warga mendapat layanan pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, asam urat, gula darah, kesehatan jantung, dan penyakit dalam. Kegiatan itu turut mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya memantau faktor risiko sejak dini.












Komentar