PALANG MERAH Amerika melaporkan bahwa satu kantong darah yang didonorkan berpotensi menyelamatkan hingga tiga nyawa sekaligus. Fakta itu sekaligus membantah anggapan bahwa donor darah hanya memberi keuntungan bagi si penerima. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menegaskan prosedur ini tergolong aman dan komplikasi seusai maupun selama pengambilan darah nyaris tidak pernah dijumpai.
Darah yang terkumpul dari para pendonor dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan medis. Perempuan yang mengalami komplikasi saat melahirkan, anak-anak penderita anemia berat, korban kecelakaan, sampai pasien yang harus menjalani operasi menjadi kelompok yang bergantung pada pasokan ini. Namun manfaatnya tidak berhenti di penerima, karena pendonor sendiri turut memperoleh dampak positif bagi kesehatannya.
Sebelum darah diambil, petugas kesehatan lebih dulu memeriksa tekanan darah, denyut nadi, dan kadar hemoglobin calon pendonor. Sampel darah kemudian dikirim ke laboratorium untuk diuji. Pemeriksaan itu mencakup sembilan jenis patogen, di antaranya HIV-1 dan HIV-2. Prosedur ini tidak memakan waktu lama dan tidak rumit, tetapi nilainya sangat berarti bagi orang lain.
Dari sisi psikologis, Health menyebut aktivitas menolong sesama melalui donor darah berdampak baik terhadap kondisi emosional seseorang. Kegiatan ini dapat menekan tingkat stres, mengurangi perasaan negatif, dan menumbuhkan rasa keterhubungan dengan orang lain. Bagi pendonor, pengalaman tersebut sering meninggalkan efek suasana hati yang lebih baik.
Banyak orang menganggap kegiatan ini identik dengan pembakaran kalori. Klaim tersebut ternyata belum bisa dibuktikan, sebagaimana dilaporkan Medical News Today. Meski begitu, pendonor yang terdeteksi mengalami obesitas atau justru kekurangan berat badan tetap bisa mendapat konseling dan pendampingan. Kadar zat besi dalam tubuh juga perlu dijaga agar tidak melampaui batas atas maupun jatuh di bawah ambang normal.
Sekitar seperempat kandungan zat besi ikut terbawa keluar setiap kali seseorang mendonorkan darahnya. Proses ini turut membantu tubuh mengeluarkan zat beracun, salah satunya PFAS. Senyawa tersebut biasa terdapat pada sejumlah produk industri dan barang kebutuhan sehari-hari. Paparan PFAS dalam jangka panjang diketahui berdampak buruk bagi kesehatan. Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang rutin mendonorkan darah selama setahun memiliki kadar PFAS lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak.
Dari sisi keamanan, WHO menjelaskan bahwa seluruh peralatan yang dipakai saat donor darah telah dirancang agar tetap steril dan aman sepanjang proses. Darah yang sudah terkumpul nantinya dipisahkan menjadi tiga komponen, yakni sel darah merah, trombosit, dan plasma. Tiap komponen digunakan untuk membantu pasien sesuai kebutuhannya masing-masing.
Kegiatan donor darah tidak menuntut waktu panjang atau prosedur berbelit. Meski demikian, dampaknya bisa sangat berharga, baik bagi keselamatan penerima maupun kesehatan pendonornya. Rangkaian donor darah sendiri sempat digelar dalam acara dies natalis ke-42 Pendidikan Radiografer/Teknik Radiologi Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) pada Sabtu (26/9/2026).



